Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Aksi Rappelling di Air Terjun Tibu Bunter Bergelantungan di Ketinggian 20 Meter dengan Seutas Tali Menikmati Air Rinjani

Supardi/Bapak Qila • Senin, 7 Juli 2025 | 17:45 WIB
NIKMATI: Salah seorang pengunjung saat menikmati  olahraga rappelling di air terjun Tibu Bunter, Desa Jeruk  Manis, dengan bergelantungan di ketinggian 20 meter, Minggu (6/7).
NIKMATI: Salah seorang pengunjung saat menikmati olahraga rappelling di air terjun Tibu Bunter, Desa Jeruk Manis, dengan bergelantungan di ketinggian 20 meter, Minggu (6/7).

Bukan sekadar basahbasahan. Di Air Terjun Tibu Bunter, pengunjung diajak menantang adrenalin dengan menuruni tebing setinggi 20 meter, bergelantungan di aliran air sejuk yang jatuh dari lereng Rinjani.

SUPARDI, Lombok Timur.

AIR Terjun Tibu Bunter di Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur, menjadi salah satu destinasi unggulan yang kembali menggeliat sejak dibuka kembali Mei lalu. Setelah sempat ditutup sejak 2018 akibat dampak gempa bumi, kini tempat wisata ini kembali ramai, terutama di akhir pekan dan musim libur sekolah.

Selain menawarkan keindahan alam dan kejernihan air yang mengalir langsung dari Gunung Rinjani, Tibu Bunter juga menjadi lokasi favorit bagi pencinta olahraga ekstrem, khususnya rappelling atau teknik menuruni tebing dengan tali. Meski tergolong ekstrem, peminatnya terus bertambah.

M Alfauzi Ismatulloh, pengelola Air Terjun Tibu Bunter, mengatakan kegiatan rappelling digelar empat kali sebulan, dengan kuota hanya 10 orang per hari. Setiap peserta mendapat kesempa tan minimal dua kali menu runi tebing air terjun.

“Sehari itu 10 orang. Kuotanya kita batasi karena capek untuk menarik talinya kalau terlalu banyak. Ini saja yang 10 bisa sampai sore baru selesai, kalau kita mulai pukul 13.00 Wita,” ujar pria yang akrab disapa Fauzi, Minggu (6/7).

Untuk mengikuti kegiatan ini, pengunjung harus melakukan pemesanan minimal dua hari sebelumnya. Antusiasme masyarakat cukup tinggi, tidak hanya dari kalangan pencinta alam, tapi juga dari masyarakat umum yang penasaran ingin mencoba.

Biaya yang dikenakan pun relatif murah. Jika di tempat lain seperti Air Terjun Kerta Gangga harga tiket bisa mencapai Rp 200 ribu hingga Rp 350 ribu, di Tibu Bunter hanya Rp 50 ribu per orang.

“Karena kita baru dan masih promo, makanya lebih murah dibandingkan tempat lain,” tambah Fauzi.

Ia menegaskan, siapa saja boleh mencoba olahraga ini asalkan memiliki keberanian. Pengunjung yang belum berpengalaman tetap akan diberi arahan serta didampingi oleh tenaga profesional.

Peralatan yang digunakan pun sudah berstandar keamanan tinggi. Tak jarang, pengunjung yang sudah mencoba ingin kembali merasakan sensasi bergelantungan di ketinggian 20 meter sambil mandi di bawah air terjun yang sejuk.

Baca Juga: Berwisata ke Air Terjun Batu Janggot di Batukliang Utara, Ada Makam Seorang Ulama Disisi Paling Ujung Bukit

Izam Mahendra, pendamping rappelling, mengaku mengenal olahraga ini saat aktif di organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) semasa kuliah. Ketertarikannya tumbuh saat mengetahui potensi Air Terjun Tibu Bunter sebagai lokasi rappelling.

“Dulu ada teman yang KKN di sini (Jeruk Manis), dari sana saya tahu air terjun ini dan tertarik untuk membuka rappelling di sini. Dan ternyata setelah kita share di media sosial, banyak yang minat untuk mencobanya,” bebernya.

Menurutnya, selain anggota Mapala, banyak pemula yang tertarik. Mereka akan mendapat arahan mengenai pengenalan alat dan teknik dasar sebelum melakukan rappelling.

Hal utama yang harus dipersiapkan, kata Izam, adalah mental yang kuat dan tidak takut ketinggian. Selama masih ada rasa ragu, peserta tidak diperbolehkan turun.

“Kalau teknik sebenarnya semua cepat paham, cuma rasa takut yang sulit dilawan. Sebelum mereka betul-betul siap, kita tidak izinkan turun,” katanya.

Kekhawatiran yang paling sering muncul dari peserta pemula adalah tali yang digunakan akan putus. Namun Izam memastikan semua alat sudah berstandar dan aman. Tali mampu menahan beban puluhan kilogram, dan alat lain seperti helm, harness, descender, carabiner, semuanya terjamin kualitasnya.

Peminat olahraga ini tidak hanya datang dari komunitas pecinta alam, tapi juga masyarakat umum dan anak muda yang belum pernah mengenal rappelling sebelumnya. Setelah mencoba, banyak dari mereka ingin kembali.

“Bahkan setelah mereka berhasil turun dengan selamat dan melakukan atraksi, mereka pasti mau coba lagi. Intinya olahraga ini hilangkan rasa takut. Insya Allah aman, tidak terjadi apa-apa,” tutupnya. (*/r7)

Editor : Pujo Nugroho
#desa jeruk manis #rappelling #Lotim #Air Terjun Tibu Bunter #air terjun