Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jejak Tangguh Abu Icin, Pionir SAR Gunung Rinjani yang Tak Kenal Usia (1) Evakuasi Pendaki Israel Paling Berat, Berlangsung 16 Hari

Supardi/Bapak Qila • Senin, 14 Juli 2025 | 21:00 WIB
Raisin Hamdi
Raisin Hamdi

Setiap sudut rumah Abu Icin di Pancor bercerita tentang Rinjani. Foto-foto puncak, sertifikat penyelamatan, hingga tas carrier tergantung rapi di dinding. Di balik semua itu, tersimpan kisah lelaki yang separo hidupnya diabdikan untuk menaklukkan jalur terjal dan menyelamatkan para pendaki.

BENDERA bertuliskan Abu Icin Adventure Trekking Organizer dengan lambang Gunung Rinjani menempel di dinding ruang tamu yang tertata estetik. Di sisi lain, empat tas gunung, perlengkapan penyelamatan, dan dua sertifikat penghargaan terpajang rapi. Satu dari Gubernur NTB, satu lagi dari Kementerian Kehutanan RI.

Selain itu, sejumlah ID card pelatihan dan plakat konservasi alam menghiasi dinding ruangan yang tak begitu luas. Setiap sudutnya juga penuh foto-foto Gunung Rinjani.

Di tempat inilah Raisin Hamdi atau yang akrab disapa Abu Icin tinggal. Berada di Kelurahan Pancor, Kecamatan Selong, tak jauh dari Ruang Terbuka Publik Pancor. Abu Icin dikenal sebagai salah satu pemilik Trekking Organizer (TO) di Lotim. Meski usia tak lagi muda, ia masih kuat naik turun puncak Rinjani mendampingi tamu dari berbagai negara.

“Kalau di KTP saya kelahiran 1971, tapi aslinya saya lahir 10 Juli 1967. Alhamdulillah masih kuat turun naik puncak Gunung Rinjani,” kata pria yang genap berusia 58 tahun ini.

Kecintaan Abu Icin pada dunia pendakian berawal dari hobinya mendaki. Ia pertama kali menapaki puncak Rinjani pada 1987, sekadar ikut-ikutan teman tanpa pernah menyangka hobinya akan menjadi pekerjaan.

Sejak saat itu, ia semakin aktif mendaki. Pada 1993, ia mendirikan Organisasi Pecinta Alam Selaparang (Oplas), bertujuan mengorganisasi para pendaki di Rinjani.

“Bulan Agustus 1993 itu kami naik Rinjani untuk merayakan 17 Agustus di Danau Segara Anak. Saat itu ada pendaki dari Jakarta dan Lampung terjatuh ke arah Gunung Barujari. Karena kemalaman pulang, mereka tenggelam di Segara Anak,” kenangnya.

Dengan perlengkapan terbatas dan tanpa pengalaman evakuasi, Abu Icin nekat menyelam di danau pada pukul 23.00 Wita. Ia berhasil mengangkat satu korban malam itu. Korban kedua ditemukan tiga hari kemudian.

Kejadian itu menjadi titik awal Abu Icin terjun di dunia SAR. Ia kerap terlibat mengevakuasi korban di Rinjani maupun bencana lainnya.

“Karena sering terlibat SAR, saya berpikir apakah cara saya sudah benar. Maka saya ikut pelatihan SAR Nasional di Bali tahun 1998. Banyak ilmu saya dapat, terutama soal safety saat evakuasi,” tuturnya.

Rasa ingin membantu terus tumbuh. Tahun 2004, saat tsunami Aceh, ia dikirim untuk membantu proses evakuasi selama dua bulan. Ia belajar menghadapi kondisi terberat, mengevakuasi hingga 200 jenazah per hari.

“Sepulang dari Aceh, saat evakuasi di sini (Lotim) saya sudah terbiasa. Bagaimanapun kondisi mayat yang saya temukan,” ujarnya.

Nama Abu Icin pun kian dikenal, bahkan di tingkat nasional. Berani, tulus, dan cekatan dalam evakuasi, dari medan tersulit sekalipun. Tahun 2018, sebelum gempa mengguncang Lombok, ia diminta membentuk TO karena pengalamannya dalam pendakian dan penyelamatan. Awalnya ia menolak karena khawatir waktunya tersita.

“Karena terus dipaksa, akhirnya saya bentuk TO ini tahun 2018 sebelum gempa,” katanya.

Tak lama setelah TO Abu Icin Adventure berdiri, gempa bumi mengguncang Lombok. Sehari setelah gempa, ia diutus mengevakuasi sekitar 500 pendaki yang terjebak di Rinjani, termasuk satu pendaki yang terjatuh.

Evakuasi sempat dibantu helikopter. Salah satu pendaki trauma dan tak berani turun karena bebatuan yang runtuh akibat gempa.

“Yang paling berat itu pendaki asal Israel, pencariannya sampai 16 hari. Semua sisi kami datangi. Kami sempat hampir dihentikan, tapi tiba-tiba ada burung gagak terbang di dekat tebing. Setelah dicek, mayatnya ternyata tertutup,” bebernya. (bersambung/r7)

Editor : Prihadi Zoldic
#rinjani #SAR #Lotim