LombokPost-Siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 38 Lombok Timur masih belajar dari rumah. Penyebabnya, gedung eks Akademi Keperawatan Sakra yang akan dipakai masih dalam proses renovasi
“Pembukaan MPLS sudah dilakukan serentak Senin (14/7) kemarin. Tapi karena gedung masih direnovasi, kita belajar online dari rumah masingmasing,” terang Kepala SRMA 38 Lotim Ahmad Afandi, Kamis (17/7).
Ia mengatakan, jumlah siswa SRMA 38 Lotim sebanyak 125 orang, dibagi menjadi lima rombongan belajar. Para siswa diambil dari keluarga miskin kategori desil 1, 2, dan 3 atau miskin ekstrem.
Selain MPLS daring, pihaknya juga memetakan keterampilan siswa untuk melihat potensi yang dimiliki. Dengan begitu, pembinaan dan pengembangan bisa diarahkan melalui ekstrakurikuler.
“Kalau materi pembelajaran sama dengan sekolah reguler. Cuma nanti setelah dipetakan potensinya, bisa kita kembangkan melalui ekstrakurikuler. Misalnya potensinya di bidang kuliner, kita dampingi di bidang kuliner,” jelasnya.
Para siswa akan menempuh pendidikan selama tiga tahun dan diasramakan. Perekrutan dilakukan melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dengan siswa berasal dari 21 kecamatan di Lotim.
Selain gedung, semua persiapan SRMA diakui sudah siap, termasuk tenaga guru sebanyak 14 orang. Guru-guru ini direkrut Kementerian Pendidikan melalui Dinas Sosial.
“Insyaallah awal Agustus kita mulai aktif belajar di kelas dan siswa sudah diasramakan. Programnya hampir sama dengan pondok pesantren karena dikembangkan sesuai dengan daerah masingmasing,” tutupnya.
Kepala Dinas Sosial Lotim H Suroto menyampaikan, sebelumnya calon siswa dari keluarga miskin yang mendaftar sebanyak 162 orang. Namun karena keterbatasan kuota, yang diterima hanya 125 orang.
“Proses seleksi dilakukan dengan melihat kategori kemiskinannya, seperti kondisi keluarga dan rumah. Kalau yang masuk kategori desil 1 semuanya diterima,” katanya.
Selain jenjang SMA, Lotim juga mendapatkan sekolah rakyat untuk jenjang sekolah dasar (SD) yang rencananya akan dibangun di Panti Sosial Kecamatan Lenek. Namun pihaknya masih kesulitan mencari calon siswa SD.
Pasalnya, anak-anak yang menjadi calon siswa sekolah rakyat sudah bersekolah di sekolah umum. Karena itu, pihaknya akan menyasar anak putus sekolah untuk dijadikan siswa sekolah rakyat jenjang SD.
“Jenjang SD juga gratis, jadi mereka banyak yang masuk sekolah umum. Itu yang menyulitkan kita mendapatkan calon siswa. Kalau jenjang SMP kita tidak dapat, Lotim hanya dapat jenjang SMA dan SD saja,” tutupnya.
Editor : Siti Aeny Maryam