Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bulog Lotim, Targetkan 14 Ribu Ton Jagung Petani Terserap

Supardi/Bapak Qila • Senin, 21 Juli 2025 | 20:39 WIB

 

Seorang buruh tani sedang mengumpulkan hasil panen jagung di sawah salah seorang petani di Lotim.
Seorang buruh tani sedang mengumpulkan hasil panen jagung di sawah salah seorang petani di Lotim.

LombokPost - Badan Urusan Logistik (Bulog) Lombok Timur (Lotim) menargetkan sebanyak 14 ribu ton jagung petani tahun ini terserap. Namun hingga bulan Juli ini, jumlah jagung yang sudah terserap oleh Bulog baru mencapai 4 ribu ton.

“Baru 4 ribu yang sudah berhasil kami serap. Kita masih kekurangan 10 ribu lagi. Tapi kita sudah sosialisasi kepada petani untuk menjual jagung mereka ke Bulog,” terang Kepala Cabang Bulog Lotim Supermansah, Minggu (20/7).

Disebut, semua gudang Bulog Lotim saat ini sudah over kapasitas dengan beras. Sehingga untuk penyimpanan jagung, pihaknya telah menyewa sejumlah gudang yang tersebar di Kecamatan Sakra, Terara, dan Pringgabaya.

Meski Lotim bukan daerah penghasil jagung. Tapi ia optimis target tersebut bisa terpenuhi. Terlebih sebelumnya pihaknya telah melakukan penanaman jagung bersama serentak bersama kepolisian. Dan ditargetkan pada bulan Agustus jagung tersebut sudah panen raya.

“Insyaallah bulan Agustus sampai September jagung-jagung yang telah kita tanaman bersama Polri di lahan yang mencapai puluhan hektar itu, bisa memenuhi target kita,” katanya.

Kata dia, saat ini tanaman tembakau menjadi komoditi andalan petani di Lotim. Namun diakui di beberapa Kecamatan tetap menanam jagung. Meski luas tanaman tidak terlalu banyak di bandingkan dengan tembakau dan padi.

Terlebih harga jagung saat ini diakui cukup mahal, yakni Rp 5.500 per kilogram dalam bentuk pipil. Dengan harga ini diyakini dapat memenuhi target serapan jagung. Dengan dikombinasikan bersama penyerapan gabah yang melibatkan berbagai pihak salah satunya tahunya ialah TNI.

“Mudah-mudahan ini bisa kita kombinasikan dengan penyerapan gabah sehingga target kita bisa tercapai,” katanya.

Salah seorang petani jagung asal Desa Kwang Rundun, Kecamatan Jerowaru Sihapari menyampaikan harga jagung di tengkulak saat ini Rp 4.500 per kilogram. Sementara harga di Bulog Rp 5.500 per kilogram. Meski harga di Bulog lebih mahal, namun petani lebih memilih menjual di Tengkulak dari pada Bulog, karena regulasi pembelian Bulog dinilai menyulitkan petani.

“Memang harga di Bulog itu mahal. Tapi regulasinya sangat ruwet. Misalnya tingkat kekeringan harus 14 persen, tingkat kotornya 3 persen, dan jahitan itu tidak bisa menggunakan tali Rafia. Makanya petani lebih memilih menjual ke tengkulak dari pada Bulog karena tidak terlalu ribet,” ujarnya.

Selain itu target pembelian Bulog diakui cukup terbatas hanya 14 ribu ton. Selebihnya tidak menerima. Sementara hasil produksi jagung di Kecamatan Jerowaru mencapai 200 ribu ton lebih. Mengingat tanaman jagung di Kecamatan Jerowaru, tidak hanya ditanam di lahan pertanian saja, namun juga ditanam di bukit-bukit.

Sementara terkait kualitas jagung di bagian selatan tahun ini diklaim cukup bagus. Rata-rata produksi jagung maksimal mencapai 9-10 ton. Tapi tergantung kualitas bibit yang digunakan.

“Produksi tergantung dari jenis bibitnya. Kalau bibitnya murah, seperti bantuan dari pemerintah, paling tinggi produksinya 5-6 ton per hektar,” katanya.

Harga jagung tahun ini juga diklaim menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni sebesar Rp 5.000 per kilogram. Bahkan dua tahun yang lalu harga jagung lebih mahal di bandingkan dengan harga padi. Harga jagung saat itu mencapai Rp 5.400 per kilogram sementara padi dan padi 5.300 per kilogram.

Kata dia, dengan harga 4.500 per kilogram di tengkulak ini petani hanya bisa untung sedikit. Namun jika dijual di Bulog petani terkendala regulasi yang dinilai cukup rumit. (par/r6)

 

Editor : Prihadi Zoldic
#Jagung #bulog #Lotim