Di balik sifat pemalunya, Ahmad Thoriq Alqahtani menyimpan bakat besar yang tak disangka keluarga. Di usia 13 tahun, siswa SMP 2 Sakra itu sukses menerbitkan buku pertamanya setelah berjuang sejak duduk di bangku SD.
----------------------------------------
SOSOK anak laki-laki berusia sekitar 13-14 tahun itu tampak asyik membaca buku dengan sampul bergambar gedung pencakar langit. Raut wajahnya terlihat bahagia saat menikmati isi buku yang ia tulis sendiri.
Dialah Ahmad Thoriq Alqahtani, siswa SMP 2 Sakra, yang menjadi salah satu penulis novel muda di Lombok Timur. Setelah sekian lama menulis, akhirnya kumpulan tulisannya berhasil dibukukan dan diterbitkan. Alqa mengaku tak percaya tulisannya kini bisa dinikmati dalam bentuk buku.
Ia bercerita sejak duduk di kelas V sekolah dasar, sudah hobi menulis. Setiap waktu luang ia manfaatkan untuk belajar menulis sambil menonton film animasi sebagai referensi.
“Awal menulis menggunakan HP, sambil main game dan menonton animasi, untuk melihat alur ceritanya,” terang Alqa.
Selain belajar di sekolah, keterampilan menulis dan menerbitkan buku ia pelajari secara otodidak melalui Instagram dan TikTok.Bahkan proses penerbitan bukunya dilakukan sendiri lewat Instagram.
Buku perdananya berjudul Deepalaqua Association: Membangun Ulang Dunia, Satu Inovasi Sekaligus. Buku itu bercerita tentang perjuangan seorang anak yang mewarisi perusahaan dari orang tuanya dalam kondisi hampir bangkrut.
Berkat kerja keras sang anak, perusahaan itu kembali bangkit. Cerita itu terinspirasi dari film animasi yang kemudian ia kembangkan dengan tambahan kisah versinya. Saat menulis, Alqa kerap terbawa suasana cerita. Saat menulis bagian sedih, ia ikut merasakan kesedihan. Begitu juga saat menulis bagian lucu dan bahagia.
“Pulang sekolah biasanya menulis di kamar. Kalau lagi bosan saya menulis. Saya pernah ikut lomba menulis tingkat nasional tapi tidak dapat juara,” katanya.
Ia mengaku sebagian besar ilmu menulis didapat dari menonton di YouTube, TikTok, dan Instagram. Setelah buku pertamanya terbit, Alqa ingin terus mengembangkan kemampuannya agar bisa menjadi novelis terkenal.
Ibunda Alqa, Sri Handayani, bercerita sebelumnya ia berharap anaknya menjadi atlet badminton. Sejak SD, Alqa bahkan ikut privat badminton. Namun setelah setahun, minatnya tidak berkembang.
“Saat itu saya ingin dia menjadi atlet, tapi setelah ikut les badminton, kemampuannya tidak berkembang. Makanya saya belikan iPad untuk belajar,” katanya.
Sri mengaku tak menyangka anaknya akan jadi penulis novel. Apalagi Alqa dikenal sebagai anak pemalu dan kurang percaya diri tampil di depan umum.
Namun suatu hari, Alqa meminta izin ikut lomba baca puisi di sekolah. Hal itu membuat Sri terkejut karena sebelumnya tak pernah melihat Alqa berlatih puisi. Ia pun memberi izin.
“Saya tidak percaya saat itu dia mau ikut lomba baca puisi, namun sebagai orang tua saya tetap dukung. Melihat dia tampil di depan umum saja sudah luar biasa bagi saya. Meskipun waktu itu dia tidak berhasil jadi juara,” katanya.
Sejak itu, Alqa mulai rutin mengikuti berbagai event menulis puisi di Instagram. Ia tak ingin membebani orang tuanya untuk biaya lomba. Menjelang kelulusan SD, Alqa mulai menawarkan naskah bukunya ke berbagai penerbit, termasuk Gramedia, tapi ditolak. Ada juga penerbit yang menolak karena alasan usia masih terlalu muda.
Namun Alqa tak putus asa. Ia terus mencari penerbit yang gratis karena tak ingin merepotkan orang tua. Setiap ada peluang, selalu ia coba.
“Naskahnya dikirim saat Alqa mau masuk SMP, kemudian jadi kemarin bulan Juni. Setahun baru bisa diterbitkan. Mudah-mudahan ini awal yang baik buat Alqa,” tutup Sri. (*/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post