Gunung Rinjani tak hanya menyimpan keindahan, tetapi juga harapan hidup ribuan warga di kakikakinya. Namun, sejak pendakian ditutup pascakecelakaan yang menewaskan pendaki asing, kehidupan di lereng Rinjani mendadak sunyi. Para pemandu, porter, hingga pedagang kecil seolah kehilangan napas.
------------
SUDAH dua bulan terakhir, nama Gunung Rinjani kembali jadi sorotan. Tak hanya di tingkat nasional, bahkan hingga mancanegara. Rangkaian insiden pendaki asing jatuh saat menaklukkan jalur ekstrem Rinjani menyita perhatian dunia. Salah satunya, yang paling menyedot perhatian, menewaskan pendaki perempuan asal Brasil, Juliana Marins.
Rentetan insiden di Gunung Rinjani, direspons Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dengan menutup sementara pendakian. Berlaku hingga 10 Agustus. Penutupan itu untuk perbaikan jalur, terutama di Pelawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak.
Penutupan itu menimbulkan kepanikan. Bukan di kalangan wisatawan, tapi di kalangan warga lokal yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas wisata.
Para pemandu dan porter mendadak kehilangan arah. Salah satunya Lukmanul Hakim, 40 tahun. Warga Desa Sembalun ini tak bisa menyembunyikan rasa cemas saat mendengar kabar penutupan. Selama ini, gunung adalah sumber nafkah utama untuk keluarganya. Menjadi pemandu adalah satu-satunya pekerjaan yang ia andalkan.
“Penutupan ini dilakukan secara mendadak, sehingga kami tidak ada persiapan apapun. Biasanya Gunung Rinjani itu ditutup tiga bulan dalam setahun. Dan penutupan itu sudah kami antisipasi, tapi sekarang ini dilakukan tiba-tiba, itu yang membuat kami pusing,” terang pria yang akrab disapa Amaq Fadil.
Lukman menjelaskan, biasanya saat penutupan tahunan tiba, para pemandu dan porter akan beralih menjadi petani atau buruh angkut hasil pertanian. Namun tahun ini, situasinya berbeda. Penutupan dilakukan di tengah musim kemarau, ketika ladang mulai kering dan pekerjaan alternatif sulit ditemukan.
“Kalau yang punya lahan pertanian, mereka akan beralih menjadi petani, tapi kalau kita yang tidak punya lahan, bingung mau kerjakan apa,” katanya.
Dulu, sebelum pendakian Rinjani seramai sekarang, banyak warga Sembalun merantau menjadi buruh migran. Namun sejak Rinjani dikenal luas dan pendakian menjadi primadona, warga lebih memilih menjadi porter dan guide.
Sebagai guide, Lukman bisa mendapatkan penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarganya dan menyekolahkan anakanak hingga SMA. Sekali trip, ia bisa membawa pulang Rp 1,2 juta atau lebih.
“Kadang-kadang tamu juga memberikan upah lebih, kalau mereka merasa puas dengan pelayanan yang kita berikan,” ujarnya.
Profesi ini sudah ia geluti sejak 2013. Sebelumnya, selama tiga tahun lebih, ia hanya menjadi porter. Berkat kemampuannya dalam berbahasa asing yang terus berkembang, ia kemudian berani naik level menjadi guide. Sejak saat itu, ekonomi keluarganya membaik.
Namun kali ini, penutupan mendadak membuatnya benar-benar kebingungan. Tak ada pekerjaan lain yang bisa diandalkan. Tak ada pula tabungan yang cukup untuk bertahan dalam masa tanpa pendapatan.
“ Penutupan ( rutin ) sering dilakukan, (bisa) kita antisipasi. Tidak seperti sekarang ini, penutupan dilakukan secara tiba-tiba, sementara tidak ada tabungan,” keluhnya.
Bukan hanya porter dan guide yang terdampak. Ojek, pedagang kecil, hingga penyedia jasa sewa peralatan pendakian ikut terpukul.
Rinjani bukan sekadar gunung bagi warga Sembalun. Ia adalah tumpuan ekonomi. Sejak dikenal dunia, hampir tak ada lagi warga yang merantau jauh. Semua hidup dari Rinjani.
“Makanya kami berharap penutupan ini tidak terlalu lama. Karena masyarakat di sini (Sembalun) sebagian besar menggantungkan hidupnya dari Gunung Rinjani,” harapnya. (*/r7)
Editor : Jelo Sangaji