LombokPost - Pemkab Lombok Timur mendorong seluruh OPD dan pemerintah desa lebih aktif mendengar suara anak melalui forum anak desa. Langkah ini diambil untuk menyerap aspirasi serta menjawab berbagai persoalan yang dihadapi anakanak, seperti kekerasan, bullying, hingga perkawinan usia dini.
“Selama ini barangkali kita masih kurang mendengarkan suara anak-anak kita. Untuk itu melalui momentum perayaan Hari Anak ini, suara mereka lebih sering kita dengar, dan serap setiap aspirasi dari mereka,” terang Kepala DP3AKB Lotim Ahmat, kemarin.
Ia mengatakan, Lotim telah memiliki forum anak mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan hingga desa. Karena itu, semua pihak terutama OPD dan pemerintah desa diharapkan bisa mendengar dan menyerap harapan anak-anak.
Salah satu harapan yang disampaikan, yakni agar desa mengalokasikan sebagian dana desanya untuk kegiatan pendampingan terhadap persoalan anak, seperti kekerasan seksual dan bullying.
“Mungkin kalau orang tua atau tokoh yang berbicara kurang didengar. Tetapi kalau teman-teman sebayanya yang berbicara tentang perkawinan anak, pelecehan seksual dan lainnya bisa lebih didengar. Untuk itu kita harus berikan support berupa anggaran untuk mereka berkegiatan,” katanya.
Ia juga berharap forum anak dilibatkan dalam setiap kegiatan pembangunan di desa. Sebab, anak-anak saat ini merupakan harapan menuju Indonesia Emas 2045. Ia meyakini, jika perhatian itu diberikan, akan lahir anak-anak yang cerdas, cermat dan pintar.
Generasi Lotim pun di masa mendatang akan menjadi generasi SMART dan mewujudkan generasi emas. Dengan keterlibatan sejumlah NGO dan pemerhati anak di Lotim, ia berharap persoalan anak bisa semakin ditekan, terutama soal perkawinan anak.
“Alhamdulillah kita kembali mendapatkan penghargaan sebagai kabupaten layak anak. Penghargaan ini sudah kita raih selama tiga tahun berturut-turut dengan tingkat Pratama,” tutupnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Lotim Moh Edwin Hadiwijaya menambahkan Pemkab Lotim berkomitmen memberikan perlindungan terhadap anak-anak. Mulai dari memberikan rasa aman, nyaman, kasih sayang, hingga pendidikan yang layak.
“Anak-anak saat ini merupakan generasi kita di masa depan. Maka kita harus perhatikan mereka, terutama supaya tidak terjadi perkawinan anak, dan stunting,” katanya.
Ia mengakui, Pemkab Lotim telah melakukan berbagai upaya mencegah perkawinan anak. Salah satunya dengan menggandeng para pembuat film untuk menyosialisasikan bahaya pernikahan anak melalui film dokumenter.
“Insya Allah Pemkab Lotim siap merespons apa yang menjadi harapan dari forum anak-anak. Dan kita akan support apa yang menjadi kebutuhan mereka,” tutupnya. (par/r7)
Editor : Prihadi Zoldic