Gunung Rinjani tak hanya menyimpan pesona alam, tetapi juga jejak spiritual yang mengakar kuat. Di Desa Sajang, masyarakat masih setia menjaga warisan leluhur melalui ritual Ngasuh Gunung, sebagai bentuk penghormatan pada alam dan permohonan keselamatan bagi para pendaki.
Puncak Gunung Rinjani siang itu diselimuti kabut tebal. Keindahannya tak tampak, meski dipandang dari jarak dekat. Alam seakan tak ingin mengganggu rangkaian ritual yang sedang dilakukan masyarakat di kaki Rinjani.
Angin berhembus pelan. Aroma kemenyan menyeruak di sekitar bale lokaq, rumah tua yang menjadi titik awal prosesi adat Ngasuh Gunung. Sebuah ritual sakral yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat sekitar Rinjani untuk menolak bala dan menjaga keselamatan.
Kiai Adat Desa Sajang, Edi Susanto menyebut, Ngasuh Gunung adalah wujud spiritualitas masyarakat dalam memohon keselamatan kepada Tuhan, terutama bagi mereka yang akan mendaki Gunung Rinjani.
“Karena di gunung itu, yang namanya mahluk tak kasat mata itu wajib ada. Kita harus percaya mereka itu ada, untuk itu kita harus menghormati mereka juga,” terang Edi, kemarin.
Ritual ini dipimpin mangku gunung, sementara penyelesaian prosesi dilakukan kiai adat. Setelah doa bersama di rumah adat, para tokoh adat akan naik ke Rinjani.
Namun sebelumnya, para pendaki akan disembek, yaitu diberi tanda di kepala menggunakan buah pinang dan sirih yang telah dihaluskan Mangku Gunung.
Di atas gunung, mangku dan para tokoh adat menjalankan serangkaian ritual, seperti doa dan makan bersama. Prosesi berlangsung selama dua hari. Mereka menginap di gunung hingga seluruh rangkaian adat Ngasuh Gunung selesai.
“Prosesi awal Ngasuh Gunung akan dimulai dari sini (rumah adat) kemudian akan selesai nanti di gunung,” katanya.
Ia berharap masyarakat, terutama para pendaki, tidak melupakan adat istiadat yang diwariskan leluhur. Menurutnya, orang-orang terdahulu sangat menjaga adab dan tata krama saat hendak naik ke gunung.
“Karena Gunung Rinjani bukan hanya sekadar gunung. Namun tempat yang dinilai sebagai tempat yang suci,” katanya.
Ia menambahkan, para leluhur biasa menemui tokoh adat seperti mangku gunung dan mangku adat sebelum naik ke Rinjani. Mereka datang dengan pakaian rapi, bahasa yang sopan, serta niat dan akhlak yang baik. Tak heran jika pada masa lalu, jarang terdengar peristiwa pendaki celaka.
“Itulah bentuk kesederhanaan orang-orang tua kita dulu jika ingin pergi ke gunung. Makanya jangan sampai hal-hal yang sekecil ini kita hilangkan begitu saja. Orang tua kita dulu sebelum ke gunung mereka juga akan disembek dulu,” katanya.
Ngasuh Gunung merupakan kewajiban bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Rinjani. Namun waktu pelaksanaannya tidak tetap, tergantung kesepakatan masyarakat. Biasanya digelar sekali dalam dua tahun, atau bahkan sekali dalam tiga hingga lima tahun. (*/r7)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin