Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Film Dokumenter Bebadong dari ADBMI Keyakinan Mistis di Balik Derita PMI Ilegal

Supardi/Bapak Qila • Rabu, 20 Agustus 2025 | 20:08 WIB
Puluhan penonton saat nonton bareng film Bebadong
Puluhan penonton saat nonton bareng film Bebadong

LombokPost - Di balik kisah pekerja migran asal Lombok, ada kepercayaan lama yang tetap melekat, yakni bebadong atau azimat. Bebadong yang diyakini membawa keselamatan ini, sering kali justru menyeret mereka dalam praktik migrasi ilegal dan berujung penderitaan. Kondisi ini digambarkan dengan apik oleh Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) melalui film dokumenter Bebadong.

Suara latar menyeramkan membuka film dokumenter itu. Puluhan penonton yang duduk rapi di kursi plastik seketika terperanjat. Sesekali tawa pecah, ketika adegan lucu muncul di layar lebar yang menyerupai bioskop mini.

Hari itu, mereka menonton Bebadong (Azimat), film dokumenter garapan Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) yang diluncurkan bulan lalu. Film ini mengangkat praktik Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Lombok yang selalu membawa bebadong setiap kali hendak berangkat ke luar negeri.

Ketua ADBMI Roma Hidayat menjelaskan, Film Bebadong merupakan cara baru untuk menyosialisasikan migrasi yang aman dan benar.

“Kita ingin mengedukasi masyarakat agar jangan terlalu percaya dengan hal-hal yang berbau mistis. Karena praktek ini masih banyak dilakukan di tengah-tengah masyarakat,” terang Roma.

Roma menilai, alih-alih membekali diri dengan pengetahuan tentang aturan PMI, perlindungan hak, dan mekanisme pelaporan, sebagian calon PMI justru lebih sibuk mencari bebadong.

“Justru yang terjadi seperti di film itu. Bebadong ini tidak bisa melindungi dari berbagi masalah yang dihadapi oleh masyarakat, apalagi kalau mereka berangkat secara ilegal,” katanya.

Roma menyebut, hampir 90 persen calon PMI masih percaya pada azimat dan mantra sebagai bekal keberangkatan. Melalui film ini, ia ingin masyarakat sadar bahwa bebadong tidak ada gunanya. Jika azimat benarbenar berfungsi, kata dia, kasus yang menimpa PMI tidak akan sebanyak sekarang.

“Yang menjadi sumber masalah PMI ini adalah tekong atau calo. Mereka menjadi aktor utamanya. Maka selama tekong ini belum bisa diberantas maka masalah-masalah PMI ini akan terus terjadi,” katanya.

Ia menambahkan, keyakinan terhadap bebadong turut memperbesar angka PMI ilegal di NTB. Ada kepercayaan azimat bisa membuat mereka tak terlihat, sehingga lepas dari kejaran aparat di luar negeri.

Keyakinan itu membuat mereka berani mengambil jalur ilegal. Faktor lain, lanjutnya, syarat menjadi PMI resmi dinilai rumit. Karena itu, masyarakat lebih memilih jalur cepat meski berisiko tinggi.

Pemutaran film Bebadong pada momen HUT RI juga bertujuan meng ingatkan pemerintah, bahwa mengisi kemerdekaan tidak cukup dengan pawai dan lomba. Di balik euforia kemerdekaan, praktik perbudakan masih ada dalam bentuk baru.

“Jika dulu masyarakat dipaksa bekerja oleh penjajah, hari ini masyarakat yang menjadi PMI juga masih mengalami perbudakan dengan dipaksa bekerja, tidak diupah, bahkan ada yang dijual organnya,” ungkapnya.

Editor : Siti Aeny Maryam
#Buruh Migran #PMI #ilegal #Lotim