Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ashitaba, Tumbuh Subur Sembalun, Diyakini Bisa Mencegah Kanker dan Tumor, Olahannya Dikirim ke Luar Negeri

Supardi/Bapak Qila • Rabu, 27 Agustus 2025 | 23:20 WIB

Rina memilih daun Ashitaba dengan kualitas terbaik untuk nantinya diolah menjadi bubuk.
Rina memilih daun Ashitaba dengan kualitas terbaik untuk nantinya diolah menjadi bubuk.

 

Di balik hamparan sayur-mayur di kaki Rinjani, tersimpan tanaman langka yang jarang dikenal orang. Namanya Ashitaba, seledri Jepang yang tumbuh subur di tanah Sembalun.

-----------------------------------

Dari lahan seluas 20 are, seorang petani perempuan bernama Rina menjadikannya sumber penghidupan keluarga sekaligus komoditas yang menembus pasar luar negeri.

Selain memiliki alam yang indah, Kecamatan Sembalun di kaki Rinjani juga dianugerahi lahan subur. Hampir setiap jengkal tanahnya ditumbuhi aneka sayur-mayur, mulai bawang putih, selada hingga stroberi.

Tak hanya sayuran, Sembalun juga kaya tanaman obat tradisional yang menyimpan banyak manfaat. Salah satunya Ashitaba, tanaman yang jarang terdengar namun tumbuh subur berdampingan dengan sayuran para petani.

Rina, salah seorang petani Ashitaba, menuturkan sejak 1996 ia sudah mulai membudidayakan tanaman ini. Tanaman herbal itu kini menjadi satu-satunya andalan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

"Sudah puluhan tahun saya budi daya, sejak tahun 1996 saya sudah mulai budi daya tanaman ini. Luas lahan tempat saya budi daya hanya seluas 20 are," terang Rina, Selasa (26/8).

Ashitaba atau seledri Jepang dikenal sebagai tanaman herbal dengan banyak khasiat. Di antaranya melancarkan peredaran darah, mencegah kanker, tumor, penyakit jantung, menyehatkan kulit, dan manfaat kesehatan lainnya.

Rina mengaku awalnya hanya mencoba-coba. Berbekal lahan 20 are dan bibit lokal, ia berhasil mengembangkan Ashitaba hingga memberi penghasilan tetap. "Potensi tanaman ini sangat besar untuk dikembangkan. Dulu saya hanya coba-coba untuk budi daya ternyata setelah panen hasilnya cukup banyak," katanya.

Dari lahan itu, ia bisa menghasilkan lebih dari satu kuintal daun Ashitaba sekali panen. Daun kemudian diolah menjadi serbuk, dengan perbandingan 10 kilogram daun menghasilkan 1 kilogram bubuk.

Harga bubuk Ashitaba tergolong tinggi, mencapai Rp 150 ribu per kilogram. Tak hanya daunnya, getah Ashitaba juga bernilai jual. Satu botol berukuran 600 mililiter dibanderol Rp 350 ribu.

“Tapi kalau getahnya ini dalam sekali panen hanya bisa 3-4 botol. Kalau panen getahnya lebih bagus dilakukan pada sore hari. Manfaatnya sama juga dengan daunnya," ujarnya.

Selama ini pemasaran bubuk Ashitaba tidak pernah terkendala. Sejak awal budi daya, peminat selalu ada. Setiap minggu pembeli datang langsung ke lahan, bahkan produk ini sudah dikirim ke Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Dari usahanya, Rina bisa meraup pendapatan hingga Rp 4 juta per bulan. Ia menilai Ashitaba sangat potensial untuk dikembangkan lebih luas, mengingat masih sedikit masyarakat yang mengenalnya.

“Tanaman ini sangat menjanjikan jika dikembangkan. Saya berharap ada dukungan dari pemerintah agar budidaya Ashitaba bisa lebih berkembang dan dikenal luas," harapnya.

Ia pun berharap masyarakat ikut mengembangkan Ashitaba sebagai komoditas unggulan baru, sekaligus penopang perekonomian warga Sembalun. (*/r7)

Editor : Redaksi Lombok Post
#herbal #sembalun #Ashitaba Indonesia #Lotim