LombokPost - Bejango Bliq merupakan event tahunan yang dilakukan masyarakat Desa Songak, Kecamatan Sakra Lombok Timur (Lotim) saat Bulan Maulid.
Sebelum puncak acara, bisanya masyarakat menggelar berbagi kegiatan adat. Di antaranya, Senjarik Minyak (membuat minyak obat), Wukuf Gegaman (pencucian benda pusaka) hingga Bejango Bliq (Kunjungan ke makam).
Hari beranjak petang. Senja di ufuk barat perlahan tenggelam. Suara tarhim dari Mesigid Bengan (Masjid Kuno) menghentikan aktivitas puluhan warga sejak pagi di area masjid berusia ratusan tahun di Desa Songak.
Selepas azan Isya, warga kembali memadati masjid. Semakin malam, suasana kian ramai. Laki-laki berdatangan membawa gegaman atau senjata pusaka beragam jenis. Ada keris, berang (parang), tombak, pisau, kayu, botol berisi minyak, hingga sabuk. Sebagian besar disarungkan dengan kain putih.
Malam itu warga Desa Songak menjalankan dua prosesi adat sekaligus, yakni Senjarik Minyak dan Wukuf Gegaman. Dua kegiatan ini menjadi rangkaian utama event budaya Bejango Bliq.
“Ritus atau prosesi ini memiliki makna tersendiri dan merupakan budaya luhur yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Acara ini dilaksanakan setiap malam tanggal 12 Rabiul Awal,” kata Tokoh Adat Gama Desa Songak Murdiyah, Minggu (7/9).
Dalam prosesi Wukuf Gegaman, setiap pusaka diasapi dan dicelupkan ke air kembang sambil dibacakan doa khusus oleh tokoh adat. Upacara ini diyakini sebagai bentuk pemeliharaan pusaka sekaligus penghormatan kepada leluhur.
“Wukuf gegaman ini tujuannya juga untuk memelihara keawetan dan orisinalitas benda pusaka, agar dapat diwariskan ke generasi mendatang,” imbuhnya.
Tradisi ini diyakini telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Dahulu, setelah Wukuf Gegaman dan Senjarik Minyak, masyarakat bahkan beradu ketangkasan. Luka akibat adu ketangkasan diobati menggunakan minyak hasil ritual.
Ritual ini juga dipercaya sebagai penyucian pusaka secara spiritual sekaligus upaya melestarikan adat nenek moyang. “Ini merupakan warisan yang harus dipelihara, karena masih mempunyai makna bagi masyarakat,” ucapnya.
Sementara Senjarik Minyak Songak menjadi rangkaian penting dalam event budaya Bejango Bliq. Prosesi dimulai sejak bulan Muharam dengan perayaan bubur putek (bubur putih), berlanjut pada bulan Safar dengan tradisi bubur beak, lalu mencapai puncaknya di bulan Maulid dengan acara Bejango Bliq.
Sebelum Senjarik Minyak dan Wukuf Gegaman, masyarakat lebih dulu menyajikan dulang maulid adat. Ada lima dulang disusun bertingkat dengan jumlah ganjil. Makanan dalam dulang harus dihabiskan di tempat, tidak boleh dibawa pulang.
“Minyak yang dihasilkan dari ritual ini akan dibagikan kepada keluarga yang ikut terlibat. Sejak awal, masyarakat membawa kelapa atau bahan lain untuk pembuatan minyak, dan ketika minyak sudah jadi, mereka berhak mendapatkannya,” jelas Murdiyah.
Minyak hasil ritual tidak diperjualbelikan, melainkan dibagikan kepada keluarga dan masyarakat yang membutuhkan. Sebagian percaya minyak ini ampuh untuk mengobati luka dan memenuhi berbagai hajat.
Ritual Senjarik Minyak Songak menjadi warisan budaya yang hingga kini tetap terjaga. Selain bagian dari perayaan Maulid adat, tradisi ini juga menjadi simbol persatuan masyarakat dalam menjaga kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
“Kalau ada keluarga atau warga yang ingin memperoleh minyak Songak, bisa langsung datang. Kalau memang ada, tentu akan diberikan, tapi kalau tidak ada harus menunggu di tahun yang akan datang,” tutupnya. (bersambung)
Editor : Siti Aeny Maryam