Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Riyadussolihin, Pembudidaya Ikan Nila dengan Sistem Bioflok Punya 13 Kolam, Sekali Panen Bisa Dapat Puluhan Juta Rupiah

Supardi/Bapak Qila • Rabu, 10 September 2025 | 20:59 WIB
Penyuluhan perikanan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lombok Timur (Lotim) saat mengecek kondisi ikan tawar yang dibudidayakan menggunakan sistem Bioflok
Penyuluhan perikanan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lombok Timur (Lotim) saat mengecek kondisi ikan tawar yang dibudidayakan menggunakan sistem Bioflok

LombokPost - Tak banyak lahan bukan berarti tak bisa berusaha. Riyadussolihin membuktikan, dengan memanfaatkan halaman rumah dan teknologi bioflok, ia mampu menghasilkan puluhan juta rupiah dari budi daya ikan nila setiap empat bulan sekali.

Belasan kolam bulat berjejer rapi di halaman rumah sederhana itu. Kolam terpal tersebut dipenuhi ikan nila. Berdiameter 3 hingga 4 meter, kolam-kolam ini menggunakan sistem bioflok.

Budi daya ikan dengan sistem bioflok kini semakin diminati masyarakat. Riyadussolihin, warga Desa Masbagik, Lombok Timur (Lotim) merupakan salah satunya. Sistem ini dinilai cukup menguntungkan.

Ia menuturkan, usaha budi daya bioflok mulai digeluti sejak 2019. Sebelum terjun penuh, ia menghabiskan waktu sekitar 1,5 tahun untuk belajar dan memahami prosesnya.

“Saya pelajari dulu bagaimana sistemnya. Itu sekitar 1,5 tahun untuk memahami prosesnya. Setelah merasa paham baru saya memberanikan diri untuk menjalankan usaha secara penuh,” terang Riyadussolihin, Selasa (9/9).

Pembuatan kolam, bibit, dan pakan diakui membutuhkan modal besar. Namun keuntungan yang diperoleh dalam sekali siklus empat bulan juga menjanjikan.

Sistem bioflok memiliki banyak keunggulan, mulai dari hemat air, efisiensi pakan, hingga hasil panen yang lebih terukur.

“Budi daya menggunakan sistem bioflok ini lebih hemat dalam pemberian pakan dan penggunaan air. Hasilnya juga lebih terukur,” katanya.

Saat ini ia mengelola 13 kolam bioflok. Masing-masing diisi sekitar 500 ekor ikan. Hasil panen biasanya diambil langsung pengepul dengan harga Rp 26 ribu per kilogram. Dari 13 kolam tersebut, ia mampu meraup omzet Rp 33 juta setiap siklus panen.

Dalam empat tahun terakhir ia selalu mendapat keuntungan. Karena itu, ia berencana menambah jumlah kolam. Menurutnya, sistem ini menjadi alternatif tepat di tengah keterbatasan lahan.

“Kalau hasil panen kita tidak kesulitan menjualnya, karena sudah ada pengepul tetap yang menampung, jadi tidak perlu khawatir dengan pasar,” tutupnya.

Sementara Penyuluh Perikanan Kecamatan Masbagik Amir Masud menilai, potensi bioflok sangat besar untuk dikembangkan. Selain hemat air dan pakan, sisa bioflok bisa dijadikan pupuk sehingga menambah nilai ekonomis.

“Budi daya ini adalah alternatif kekinian yang sangat cocok dikembangkan. Ini sebagai solusi untuk budi daya ikan di lahan terbatas,” terangnya.

Ia menyebut, di Kecamatan Masbagik saat ini ada 16 kelompok masyarakat yang menjalankan budi daya bioflok. Bahkan sekitar 20 persen alokasi dana desa diarahkan untuk mendukung pengembangan sektor perikanan ini.

Hal ini menunjukkan perhatian serius pemerintah desa terhadap peluang usaha perikanan modern yang berkelanjutan. Dengan dukungan pemerintah dan keterlibatan masyarakat, budi daya ikan diyakini bisa menjadi salah satu penopang ekonomi baru di Lotim.

“Sistem ini bukan hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga ramah lingkungan, sehingga berpotensi berkembang lebih luas di masa mendatang,” tutupnya.

Editor : Siti Aeny Maryam
#budidaya ikan air tawar #ikan #bioflok