Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harga Bawang Putih di Sembalun Anjlok Usai Panen, Petani Butuh Kepastian Harga dari Pemerintah

Supardi/Bapak Qila • Sabtu, 13 September 2025 | 12:35 WIB

 

Salah seorang petani bawang putih di Kecamatan Sembalun saat melihat kondisi bawang putih yang sedang dijemur
Salah seorang petani bawang putih di Kecamatan Sembalun saat melihat kondisi bawang putih yang sedang dijemur

LombokPost-Harga bawang putih di Sembalun anjlok hingga Rp 3.000 per kilogram.

Kondisi ini membuat petani terancam merugi dan berharap pemerintah turun tangan menyiapkan pasar serta kepastian harga.

“Kemarin saya panen, dan harga bawang putih sekarang seharga Rp 3.000 per kilogram basah. Harga ini sangat menurun drastis sekali dari sebelumnya,” terang Suniardi salah seorang petani bawang putih di Desa Sembalun Bumbung kepada Lombok Post, Jumat (11/9).

Ia mengatakan, harga bawang putih sebelumnya Rp 8 ribu per kilogram untuk varietas lembu putih.

Sementara untuk jenis sangga Sembalun dan sangga hijau mencapai Rp 10 ribu per kilogram. Dengan harga saat ini, petani dipastikan merugi.

Sementara harga pupuk dan obat-obatan pertanian dinilai cukup mahal.

Apalagi jika petani harus membeli benih sendiri, bulan lalu harganya mencapai Rp 5 ribu per kilogram.

“Tapi kemarin kan kita tidak beli benih, kita dikasih bantuan. Tapi bagaimana dengan yang tidak dapat bantuan. Otomatis mereka akan rugi, dengan harga sekarang di tengah harga obat-obatan dan benih yang mahal,” jelas pria yang akrab disapa Amaq Siska ini.

Dalam satu hektare lahan dibutuhkan sekitar 1 ton benih dengan hasil produksi lebih dari 20 ton per hektare untuk varietas lembu putih. Sedangkan varietas lain produksinya di bawah 20 ton per hektare.

Ia berharap, hasil produksi petani bisa dibeli pemerintah langsung dengan harga lebih tinggi dari pengepul.

Selama ini bawang putih Sembalun rata-rata dijual ke pengepul dan penangkar benih.

“Memang kemarin kita diberikan bantuan benih, mulsa, pupuk dan bantuan lainnya. Tapi kalau untuk pasar tidak ada kejelasan, kita tidak diberitahu hasil panennya akan diserap siapa, dan tidak ada ketentuan harga pascapanen,” ungkapnya.

Menurutnya, meski ada bantuan benih dan perlengkapan tanam, jika harga di pasaran murah, petani tetap merugi.

Karena itu pemerintah diminta tidak hanya fokus pada bantuan sebelum tanam, tetapi juga membantu pascapanen.

“Bukan tidak ada artinya bantuan-bantuan itu. Hanya saja, kalau tidak ada perhatian setelah panen ini, otomatis petani akan jual di pasar dengan harga murah. Kan sama saja, petani tetap rugi. Lebih baik tanam sayur,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga mengeluhkan bantuan benih dari pemerintah yang membuat musim tanam bergeser.

SK penerimaan bantuan benih turun bulan Juni, sementara benih cair Agustus, disusul mulsa dan bantuan lain.

Kondisi ini membuat petani tidak bisa langsung menanam meski lahan sudah lama siap.

“Bedengan sudah siap, bahkan sudah dipenuhi rumput dan harus disemprot, baru ditanam. Artinya lahannya sudah lama menganggur baru bisa tanam,” tutupnya.

Sementara Ketua Kelompok Tani Pusuk Pujata Egi menambahkan persoalan harga dialami bersama.

Kelompoknya tidak memiliki wewenang menentukan harga, sebab ditentukan pasar. Namun pihaknya tetap berusaha memberikan harga terbaik bagi petani.

“Kalau bantuan benih kemarin itu, itu skemanya bagi hasil. Untuk pembenihan dan akan dikembangkan kembali di Sembalun dengan target lahan 100 hektare,” tutupnya. 

Editor : Kimda Farida
#bawang sembalun #sembalun #bawang putih #bawang