Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Budi Daya Jamur di Sembalun, Warga Beralih ke Biogas agar Ramah Lingkungan

Kimda Farida • Selasa, 16 September 2025 | 14:00 WIB
INOVASI: Warga Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur bersama tim dari Pascasarjana Universitas Mataram memeriksa instalasi digester biogas berkapasitas 8 m³.
INOVASI: Warga Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur bersama tim dari Pascasarjana Universitas Mataram memeriksa instalasi digester biogas berkapasitas 8 m³.

LombokPost--Warga Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, kini mulai meninggalkan tradisi pasteurisasi media jamur dengan kayu bakar yang merusak lingkungan.

Mereka beralih menggunakan teknologi biogas yang memanfaatkan kotoran sapi dan limbah organik.

Inisiatif ini dicetuskan tim pengabdian masyarakat Magister Mitigasi Bencana Pascasarjana Universitas Mataram (Unram).

Diketahui, selama ini pasteurisasi dengan membakar kayu kerap memicu longsor, tanah retak, serta menyebabkan masalah kesehatan seperti batuk dan iritasi mata akibat asap.

“Konsepnya sederhana, kotoran sapi difermentasi dalam digester tertutup, menghasilkan gas metana yang dibakar untuk memanaskan air menjadi uap. Uap itulah yang digunakan untuk pasteurisasi media jamur, tanpa asap dan tanpa menebang pohon,” jelas Teti Zubaidah dari Magister Mitigasi Bencana Unram.

Sebuah rumah jamur telah didirikan sejak Mei 2024 di area Rumah Qur’an At-Tazkiyah, yang dikelola Yayasan Gerak Bareng bersama ASASI NTB dan LAZ DASI NTB.

Unit biogas dengan digester kapasitas 8 m³ dan penampung gas 12 m³ juga telah dibangun pada Juli 2024.

Pada tahap selanjutnya, dipasang tungku pembakaran biogas dan saluran pipa uap menuju rumah jamur.

Dua drum stainless steel dengan tungku bertekanan rendah memanfaatkan 0,5 m³ biogas per jam untuk menghasilkan uap.

Ruang pasteurisasinya mampu menampung hingga 800 kg media per batch.

Warga setempat juga dilibatkan dalam pelatihan operasional, termasuk merawat digester, mengatur aliran uap, dan memantau suhu. Namun, uji coba pertama sempat mengalami kendala.

Pasteurisasi pada 800 kg media jerami di ruang besar gagal mencapai suhu di atas 30°C, sehingga memicu tumbuhnya jamur liar.

Tim pun mengecilkan ruang pasteurisasi menjadi 20 m³ dan hanya memproses 200 kg media untuk jamur kancing.

Hasilnya, suhu stabil pada 70–80°C selama enam jam dan berhasil menumbuhkan jamur dengan baik.

Meski sempat menggunakan LPG saat suhu lingkungan turun di bawah 20°C, tim kini mempersiapkan modifikasi tungku agar biogas dapat diandalkan sepenuhnya.

Melalui program ini, limbah ternak diubah menjadi energi hijau, petani terhindar dari kebiasaan menebang kayu, dan emisi karbon berkurang drastis.

Sembalun tidak hanya mendapat keterampilan baru, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan di daerah rawan bencana.

Ke depan, tim berencana memodifikasi tungku agar lebih efisien di cuaca dingin atau mengeksplorasi autoklaf ramah energi.

Dengan dukungan berkelanjutan, Sembalun Bumbung membuktikan bahwa pertanian modern dan pelestarian alam dapat berjalan beriringan

Editor : Kimda Farida
#Pascasarjana Unram