LombokPost - Dinas Perdagangan (Disdag) Lombok Timur (Lotim) memastikan tidak ada kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (Kg) di Lotim. Kepastian itu setelah dilakukan pemantauan ke sejumlah pangkalan, dengan stok masih aman.
”Bahkan gas 3 Kg masih banyak kami temukan di beberapa pengecer. Ini artinya gas elpiji di Lotim tidak terjadi kelangkaan,” terang Kabid Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Disdag Lotim Saiful Wathan, Kamis (18/9).
Ia juga menegaskan, tidak ada kelangkaan akibat penggunaan gas elpiji 3 Kg oleh dapur sehat program makan bergizi gratis (MBG). Dari hasil pantauan di dua kecamatan, tidak ditemukan dapur MBG yang menggunakan elpiji 3 Kg.
Rata-rata dapur MBG menggunakan gas 12 Kg, dan masing-masing memiliki gudang penyimpanan untuk stok. “Jangankan elpiji, BBM saja mereka tidak boleh menggunakan yang subsidi. Dari pantauan kami dapur MBG itu memakai elpiji 12 Kg,” katanya.
Jatah gas elpiji Lotim sebanyak 34.899 tabung, dan pihaknya sudah meminta tambahan. Sejauh ini harga elpiji di Lotim juga masih dalam batas normal atau sesuai harga eceran tertinggi (HET) yakni Rp18 ribu.
Sementara itu, adanya pengecer yang menjual di atas HET disebabkan lokasi kios jauh dari pangkalan sehingga berdampak pada harga. Adapun kenaikan beberapa hari terakhir diperkirakan karena peringatan Maulid Nabi.
“Kalau berdasarkan surat yang kami terima, kenaikannya karena peringatan Maulid Nabi. Tapi pengecer ini yang harus kita berikan pemahaman agar tidak menaikkan harga terlalu tinggi, karena mereka tidak termasuk dalam mekanisme penjualan, yang ada itu hanya pangkalan bukan pengecer,” tutupnya.
Bupati Lotim H Haerul Warisin menambahkan, pekan depan ia akan mengumpulkan seluruh pengelola MBG di Lotim dan mendata jenis elpiji yang digunakan masing-masing dapur.
“Hari ini saya sudah minta dari agen untuk mendata semua MBG, lengkap dengan jenis elpiji yang digunakan. Karena isunya ada dapur MBG ada yang menggunakan elpiji 3 Kg. Sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan yang subsidi,” katanya. (par/r7)
Editor : Prihadi Zoldic