LombokPost-Keberadaan dapur sehat program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai belum memberi dampak bagi petani, terutama petani sayur mayur. Pengelola dapur MBG sudah tidak lagi mengambil sayuran dari petani sekitar.
"Cuma sekali mereka mengambil, saat uji coba itu saja, setelah itu tidak pernah lagi," terang Apandi, petani sayur asal Desa Mamben Lauk, Minggu (21/9).
Salah satu dapur MBG pernah menyerap hingga satu kuintal brokoli miliknya. Hal itu membuatnya sempat bahagia, karena keberadaan dapur MBG diharapkan memberi kepastian pasar bagi petani.
Kata dia, alasan dapur MBG tidak lagi mengambil brokoli karena dianggap kurang bagus, tidak tahan disimpan, serta mudah rusak dan busuk. Selain itu brokoli juga dinilai kurang disukai siswa.
"Katanya begitu, cepat rusak, jadi mereka takut untuk menjadikan brokoli ini sebagai menu MBG," imbuhnya.
Saat ini menu MBG lebih banyak diganti dengan makanan olahan kekinian, sedangkan menu sayur menggunakan buncis, pakcoi, kacang panjang, dan wortel. Padahal menurutnya dari sisi ketahanan, brokoli sama saja dengan sayuran lain.
Kini sayurnya dijual ke pasar tradisional dengan harga sangat murah, hanya Rp 2.500 per kilogram. Padahal sebelumnya harga brokoli bisa mencapai Rp 9.000 per kilogram. Dengan harga saat ini, petani mengaku tidak mendapat keuntungan.
"Apalagi harga pupuk dan obat-obatan sekarang serba mahal. Di lahan 24 are ini saja modalnya sudah Rp 24 juta," katanya.
Di tengah anjloknya harga sayur, petani berharap dapur MBG bisa menyerap hasil panen mereka dengan harga lebih baik dari pasar, mengingat program tersebut merupakan program presiden.
Editor : Siti Aeny Maryam