LombokPost - Di balik deru pariwisata Desa Tetebatu yang kian menggema, ada kisah perjuangan seorang pemuda bernama M Nadratul Naim. Dari buruh migran di Malaysia, ia kembali ke kampung halaman untuk mengangkat tenun songket ibunya menjadi daya tarik wisata yang memikat turis mancanegara.
Puluhan kain tenun beragam motif menggantung di setiap sudut rumah kayu dua lantai itu. Beberapa masih baru, sebagian lainnya sudah dijahit menjadi berbagai produk seperti selendang dan baju.
Di samping alat tenun tradisional, tampak seorang pria berkulit putih dan berambut pirang mengamati proses menenun sambil mengabadikan momen dengan kamera mirrorless. Di sebelahnya, seorang pemuda menjelaskan cara kerja alat tradisional itu dengan penuh semangat.
Kegagalannya di luar negeri tak membuat semangatnya padam. Ia terus mencari cara mewujudkan mimpinya dan akhirnya memutuskan bekerja di Gili Trawangan untuk belajar bahasa Inggris dari wisatawan asing.
“Niat saya bekerja di Gili bukan semata-mata untuk cari uang. Tetapi ingin belajar bahasa Inggris.,” bebernya.
Saat itu, Naim bahkan rela tidak digaji asalkan bisa belajar bahasa Inggris. Ia yakin potensi tenun ibunya besar jika dikembangkan, apalagi Desa Tetebatu tak pernah sepi wisatawan.
Setelah cukup pengalaman dan mulai bisa berbahasa Inggris, Naim bersama ibunya membangun tempat Hand Weaving dari donasi tamu dan hasil penjualan kain songket.
“Hasil donasi yang diberikan tamu dan hasil penjualan kain songket ini ditabung, kemudian setelah terkumpul kita beli sedikit demi sedikit bahan (bangunan),” jelasnya.
Setelah itu, ia berhasil membuka agen wisata sendiri. Namun, membuat agen wisata tidak semudah dibayangkan. Ia harus memahami promosi, sejarah, dan berbagai hal lain agar bisa menarik wisatawan.
Baca Juga: Lima Daya Tarik Utama Surga Pariwisata di Desa Wisata Tetebatu Lombok Timur
Untuk mempromosikan usahanya, Naim menyewa videografer profesional agar tampilannya menarik di media sosial. Usahanya berbuah hasil. Kini Hand Weaving miliknya tak pernah sepi tamu asing. Ia dan ibunya sibuk melayani wisatawan yang ingin belajar menenun kain songket Tetebatu.
“Di sini tempat mereka belajar. Karena hand weaving ini salah satu paket wisata yang kami tawarkan selain keliling Desa Tetebatu,” jelasnya.
Di tempat itu, tamu diberikan edukasi budaya tentang proses pembuatan kain songket, cara mengenakan, hingga produk turunannya. Jika tertarik, mereka akan membeli langsung. Jika tidak, biasanya mereka memberi sumbangan sukarela.
Baca Juga: Sempat Kabur dari SAE Menanga Baris, Warga Binaan Lapas Selong Ditemukan Tewas di Tetebatu
Salah satu aktivitas favorit wisatawan asing adalah berjalan keliling Tetebatu mengenakan baju adat. Hal inilah yang sering membuat mereka tertarik membeli kain songket khas Lombok.
“Kalau sudah penasaran pasti mereka beli. Tapi kalau tidak, mereka hanya kasih sumbangan sukarela saja,” katanya. (bersambung)
Editor : Siti Aeny Maryam