Puluhan sertifikat penghargaan berjejer rapi di teras rumah, terbungkus map warna-warni. Ada penghargaan pencak silat, lomba menulis cerita pendek, karya ilmiah, hingga karya jurnalistik. Semua menjadi saksi perjalanan panjang seorang pelajar berprestasi asal Lombok Timur.
Dialah M Dimas Ibnu Pratama, siswa SMAN 1 Terara. Ia dikenal bukan hanya cerdas di bidang akademik, tetapi juga aktif di kegiatan nonakademik. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, Dimas selalu meraih peringkat pertama di kelas.
"Alhamdulillah sejak SD sampai SMA tidak pernah tidak dapat peringkat 1. Selalu peringkat 1, peringkat dua pun tidak pernah," kata Dimas, ditemui di rumahnya di Desa Montong Betok, Kecamatan Montong Gading, Minggu (26/10).
Minat menulis mulai tumbuh sejak ia di bangku SMP. Dimas kerap menulis cerita pendek dan berbagai karya tulis lainnya. Namun kala itu, bakatnya belum bisa berkembang karena keterbatasan fasilitas dan akses mengikuti lomba.
"Saat masih SMP itu saya hanya menulis saja, tidak pernah ikut lomba. Karena tidak punya akses ke lomba dan fasilitas juga masih kurang. Makanya saya hanya fokus menulis," terang siswa kelas XII Sains itu.
Kecintaannya pada menulis tumbuh dari kebiasaannya membaca novel dan buku cerita. Ia sering membeli buku secara online untuk memperkaya imajinasinya. Saat memasuki SMA, bakatnya makin terasah. Ia mulai aktif mengikuti berbagai lomba menulis dan meraih sejumlah prestasi.
Prestasi tertingginya diraih ketika menjadi juara 1 lomba menulis cerpen tingkat NTB. Sejak saat itu, Dimas semakin giat menulis dan menambah pengalaman di berbagai kompetisi.
Sepanjang 2025, puluhan penghargaan telah ia kumpulkan. Di antaranya juara 1 lomba menulis feature pada Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Lotim dan mewakili daerahnya di tingkat provinsi.
"Kemudian juara tiga resensi buku di Arpusda Lotim, lomba cerpen di Universitas Hamzanwadi dan pernah dapat juara menulis juga di Unram," ujarnya.
Motivasi menulisnya muncul dari kutipan tokoh nasional HOS Tjokroaminoto, jika ingin menjadi pemimpin besar, menulis seperti wartawan dan berbicaralah seperti orator. Kutipan itu menjadi pegangan bagi Dimas untuk terus berkarya lewat tulisan.
Kini, ia berencana menerbitkan buku antologi cerpen. Dimas mulai mengumpulkan karya-karya yang pernah ia tulis agar tidak hilang dan bisa dibaca lebih banyak orang.
Di balik segudang prestasi itu, Dimas tetap disiplin membagi waktu antara belajar di sekolah, mengikuti les di Selong, dan mengembangkan hobinya. Selain menulis, ia juga berprestasi di bidang pencak silat, bahkan beberapa kali meraih juara satu.
Ia berharap seluruh pencapaian itu menjadi jalan untuk meraih cita-citanya. "Pilihan pertama dokter dan kedua sastrawan, ingin menjadi penulis. Mudah-mudahan penghargaan selama ini bisa memudahkan langkah ke depannya," tutupnya.
Editor : Siti Aeny Maryam