Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Kondisi SMPN Satu Atap Montong Gading, Tiga Ruang Kelas Ambruk, Siswa Belajar di Perpustakaan

Supardi/Bapak Qila • Selasa, 28 Oktober 2025 | 10:00 WIB

 
Kepala SMPN Satap Montong Gading saat melintas di bangunan SMP yang ambruk.
Kepala SMPN Satap Montong Gading saat melintas di bangunan SMP yang ambruk.

Lombokpost-Di balik rindangnya pepohonan di kaki bukit Montong Gading, Lombok Timur, berdiri bangunan sekolah yang nyaris dilupakan.

Dindingnya retak, atapnya ambruk, dan rumput liar tumbuh di antara reruntuhan.

Di sanalah semangat belajar anak-anak Desa Perian tetap menyala, meski ruang kelas mereka telah lama roboh.

JAUH di pedalaman Desa Perian, Kecamatan Montong Gading, tiga bangunan sekolah tampak sunyi dan lapuk dimakan waktu.

Atapnya bolong. Plafon menggantung, siap jatuh kapan saja.

Lantainya ditumbuhi semak belukar setinggi lutut, menutupi bekas reruntuhan kayu dan genting yang berserakan.

Bangunan itu dulunya menjadi ruang belajar bagi puluhan siswa SMPN Satu Atap (Satap) Montong Gading.

Kini hanya satu ruang yang masih bertahan, meski kondisinya tak kalah memprihatinkan.

“Plafonnya sudah mulai jatuh, tinggal menunggu waktu ambruk juga,” kata Kepala SMPN Satap Montong Gading Roni Musdiwantoro saat ditemui Senin (27/10).

Roni bercerita, tiga kelas itu sudah rusak berat sejak lama.

Namun karena keterbatasan ruang, pihak sekolah tetap memanfaatkannya untuk kegiatan belajar.

Hingga awal tahun 2023, bencana datang. Hujan deras disertai angin kencang selama tiga hari mengguncang Montong Gading, membuat dua bangunan roboh seketika.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem, Empat Ruang Sekolah Rusak di Lombok Tengah

“Untungnya tiga hari sebelumnya sudah kami kosongkan. Anak-anak kami pindahkan ke perpustakaan, lab. TIK, dan lab. IPA. Kalau tidak, bisa berbahaya,” ucapnya.

Kerusakan sekolah itu bukan semata akibat cuaca. Menurut Roni, gempa 2018 juga meninggalkan jejak keretakan di hampir semua bangunan.

“Kondisinya sudah tua, ditambah gempa, jadi makin rapuh,” ujarnya lirih.

Usai kejadian, tim dari BNPB, BPBD, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur sempat turun meninjau lokasi. Mereka berjanji akan memperbaiki tiga lokal yang ambruk. 

Namun janji tinggal janji. Hingga kini, pembangunan belum juga dimulai.

“Terakhir kami dijanjikan perbaikan di akhir tahun ini oleh BPBD Lotim,” katanya. 

“Bahkan Ditjen SMP sempat menanyakan, kalau BPBD tidak jadi membangun, mereka siap ambil alih,” sambungnya.

Tiga ruang itu, kata Roni, sangat dibutuhkan. Jumlah siswa terus bertambah setiap tahun. Dengan kondisi saat ini, aktivitas belajar terpaksa menumpuk di ruang laboratorium.

“Kami sudah pasang tali pembatas agar anak-anak tidak bermain di sekitar bangunan yang rusak, terutama anak SD yang sering main di sini,” ujarnya khawatir.

Roni hanya berharap, kepastian segera datang. 

“Kalau terus dibiarkan, bangunan yang tersisa bisa ikut ambruk. Kami tidak ingin menunggu sampai ada korban,” pungkasnya.(*r1)

 

 

Editor : Kimda Farida
#Sekolah #sekolah rusak #Lotim #ambruk