Lombokpost - Di balik tembok tinggi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Selong, tradisi Peresean menggema. Dua pepadu saling beradu ketangkasan diiringi gamelan, menghadirkan semangat perjuangan dan kebanggaan budaya Sasak bagi warga binaan yang haus hiburan dan motivasi untuk bangkit.
Suara penjalin yang mengenai ende berpadu dengan irama gamelan, menggema dari dalam bangunan berdinding tinggi itu. Sorak-sorai warga binaan menambah riuh suasana, menyaksikan dua pepadu saling adu ketangkasan di arena.
Tanpa baju, hanya berikat kepala, mereka terlihat lincah memainkan penjalin dan ende, menangkis pukulan sambil menari mengikuti alunan musik.
Peresean hari itu tak berlangsung di lapangan umum seperti biasanya. Tradisi khas Suku Sasak itu justru digelar di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Selong. Yang tampil pun para warga binaan sendiri.
Kepala Lapas Kelas IIB Selong Ahmad Sihabudin mengatakan, meski di balik jeruji, bukan berarti warga binaan kehilangan kesempatan untuk melestarikan budaya lokal. Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian terhadap warisan budaya Lombok.
“Ini sebagai bentuk kepedulian kami terhadap budaya Lombok. Apalagi Peresean ini sudah menjadi identitas Suku Sasak,” terang Ahmad Sihabudin, Minggu (9/11).
Ia mengaku, penampilan Peresean memberikan semangat dan hiburan bagi warga binaan dalam menjalani masa pidana. Diharapkan semangat itu terus terjaga hingga mereka bebas nanti.
Animo warga binaan terhadap Peresean cukup tinggi. Tradisi ini bukan sekadar olahraga tradisional, tetapi juga hiburan yang memuat nilai perjuangan, semangat, dan simbol perlawanan Suku Sasak.
“Ini juga menggambarkan perjuangan dan perlawanan yang harus dihadapi para warga binaan. Begitu keluar mereka bisa berjuang untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Ahmad mengakui, awalnya pihaknya sempat khawatir menggelar pertunjukan Peresean di dalam Lapas. Sebab permainan ini tergolong ekstrem dan berisiko menimbulkan luka yang bisa disalahartikan sebagai kekerasan di dalam Lapas.
“Biasanya kalau orang Peresean itu akan menimbulkan banyak luka. Kita takut itu nanti dianggap penganiayaan makanya baru sekarang kita lakukan pertunjukan ini,” katanya.
Namun setelah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Pariwisata, kegiatan ini dinilai aman serta menjadi bagian dari pelestarian budaya Sasak.
Kegiatan tersebut disambut antusias warga binaan. Karena itu, Lapas Selong berencana rutin menggelar kegiatan serupa sebagai bagian dari pembinaan. (*)
Editor : Marthadi