LOMBOKPOST-Setiap pagi, puluhan anak di Dusun Penyonggok, Desa Seriwe, Lombok Timur, mempertaruhkan keselamatan demi menuntut ilmu. Sejak jembatan penghubung ke sekolah mereka putus tahun lalu, satu-satunya jalan pulang dan pergi hanyalah menyeberangi muara dengan perahu kecil atau berenang melawan arus jika perahu tak datang.
Langit Jerowaru siang itu tampak cerah. Tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Udara terasa menyengat, membuat puluhan anak berseragam sekolah dasar (SD) berlarian mencari tempat berteduh di pinggir muara. Mereka menunggu perahu yang akan menjemput pulang dari sekolah.
Beberapa anak membuka baju seragam, melipatnya rapi ke dalam ransel. Tak lama kemudian, perahu kecil berukuran sekitar empat meter merapat di tepi muara. Seketika, anak-anak itu berebut naik. Suara tawa dan teriakan bercampur riuh dengan percikan air. Sebagian anak bahkan harus berdiri karena tak kebagian tempat duduk.
Baca Juga: Warga Jerowaru Krisis Air Bersih
Anak-anak itu hendak pulang ke Dusun Penyonggok, Desa Seriwe. Sebuah dusun kecil yang terpisah dari wilayah lain setelah jembatan penghubung putus tahun lalu. Sejak itu, seluruh aktivitas warga terganggu, termasuk akses anak-anak menuju sekolah yang kini hanya bisa ditempuh dengan perahu.
“Setiap berangkat dan pulang sekolah, kami selalu lewat sini (muara, Red) menggunakan perahu. Kalau melalui darat harus agak jauh,” terang Aldo, salah seorang anak Dusun Penyonggok, Senin (10/11).
Ia bercerita, jika tidak ada perahu yang menjemput, apalagi ketika air muara sedang surut, mereka terpaksa berenang menyeberangi muara sepanjang sekitar 100 meter itu.
Bahkan, tak jarang mereka dijemput orang tua masing-masing dengan cara digendong menyeberangi muara karena tak ada perahu yang bisa digunakan.
Baca Juga: Dinas Sosial NTB Salurkan 15.000 liter Ari Bersih Kepada Warga Tiga Dusun di Desa Seriwe Jerowaru Lombok Timur
“Kalau tidak ada perahu kadang kami berenang, kadang dijemput orang tua. Kalau air kecil kita berenang sama teman-teman sambil balapan,” ungkapnya.
Kondisi ini kerap membuat anak-anak Dusun Penyonggok absen sekolah, terutama saat perahu tidak tersedia dan air muara tak kunjung surut. Jika dipaksakan menyeberang, arus deras bisa membahayakan nyawa mereka.
“Sering tidak bisa masuk sekolah kalau tidak ada perahu. Daripada bahaya, kami memilih untuk tidak masuk,” katanya.
Baca Juga: Seorang Pemuda di Jerowaru Ditemukan Tergantung di Kamarnya, Mayat Korban Diotopsi
Sejak jembatan penghubung ambruk, aktivitas warga terganggu. Tak hanya akses pendidikan, tetapi juga ekonomi dan sosial. Mereka berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan itu agar kehidupan warga bisa normal seperti sebelumnya.
“Mudah-mudahan bisa dibangun lagi, supaya tidak lagi menggunakan perahu atau berenang saat berangkat dan pulang sekolah,” harapnya.
Sementara itu, Irwan, sopir perahu yang setiap hari menyeberangkan anak-anak, mengatakan jumlah siswa SD dan SMP yang diantar mencapai puluhan orang. Ia harus bolak-balik menyeberangkan mereka tiga hingga empat kali setiap hari.
Baca Juga: UI Dampingi Kader dan Ibu Baduta di Kecamatan Jerowaru dalam Praktik Pembuatan MPASI Sehat
“Kadang tiga kali bolak-balik menyeberangi anak-anak, tapi kalau sedikit yang masuk sekolah hanya dua kali,” katanya.
Meski harus bekerja keras, Irwan tidak pernah memungut biaya. Semua ia lakukan dengan ikhlas karena merasa iba melihat anak-anak harus menyeberangi muara yang bisa saja membahayakan nyawa mereka.
Selain urusan sekolah, kondisi ini juga berdampak pada kegiatan ibadah. Warga kerap tidak bisa menunaikan salat Jumat karena semua fasilitas berada di seberang muara, di Desa Seriwe.
Baca Juga: Dukcapil Lotim Kembali Sisir Masyarakat Marginal yang Belum Memiliki Adminduk di Plosok Jerowaru
“Sering juga kami tidak Jumatan karena perahu tidak ada untuk menyeberang,” ungkapnya.
Sebelumnya, pemerintah desa pernah membangun jembatan bambu sebagai penghubung sementara. Namun, jembatan itu tidak bertahan lama karena diterjang arus dan angin hingga akhirnya ambruk dan hanyut.
“Mudah-mudahan nanti jembatannya bisa dibangun kembali, dan lebih bagus lagi dari sebelumnya,” tutup Irwan. (*/r7)