Lombokpost-Tiga ruang kelas di SDN 2 Batu Putik, Kecamatan Keruak, berdiri rapuh menantang waktu. Setiap hujan turun, bukan hanya genting yang bocor, tapi juga rasa takut guru dan murid yang khawatir bangunan itu sewaktu-waktu ambruk di tengah pelajaran.
Jam istirahat baru saja usai. Satu per satu siswa yang tadinya asyik menyantap makan bergizi gratis (MBG) di teras sekolah mulai memasuki ruang kelas untuk melanjutkan pelajaran berikutnya.
Langit di selatan tampak mendung. Beberapa guru terlihat cemas, seolah ada bahaya yang dibawa awan hitam siang itu. Kekhawatiran mereka bukan tanpa alasan. Setiap kali hujan turun, ruang belajar di SDN 2 Batu Putik menjadi sumber waswas.
Kondisi tiga ruang belajar di sekolah itu memang memprihatinkan. Dikhawatirkan bangunan tiba-tiba roboh saat anak-anak belajar di dalam kelas.
Kepala SDN 2 Batu Putik Muhsan mengatakan, setiap kali hujan turun ia selalu khawatir melihat murid-muridnya belajar di dalam kelas. Ia takut sekolah ambruk saat proses belajar mengajar berlangsung.
"Kalau kelas tiga ada tiga ruangan yang sangat parah, kayu-kayunya sudah lapuk, bahkan sudah berjatuhan. Itu yang kami khawatirkan, tiba-tiba ambruk saat anak-anak sedang belajar, apalagi sekarang sudah musim hujan," terang Muhsan saat ditemui di ruangannya, Selasa (11/11).
Ia menyebut, SDN 2 Batu Putik memiliki sembilan rombongan belajar (Rombel), namun hanya enam ruang kelas yang tersedia. Untuk menampung semua siswa, ia memanfaatkan gedung perpustakaan dan bekas rumah dinas guru sebagai ruang belajar, meski rumah dinas itu juga jauh dari kata layak.
Selain itu, dua rombel terpaksa digabung dalam satu kelas karena tidak ada lagi ruang yang bisa digunakan. Kondisi ini membuat Muhsan bingung harus berbuat apa.
"Selain kekurangan kelas, tiga ruangan kelas juga sudah sangat memprihatinkan. Tinggal menunggu waktu roboh saja. Ini yang membuat saya semakin waswas. Apalagi sekarang sudah musim hujan. Saya khawatir kayunya tidak bisa menahan beban dan tiba-tiba ambruk," katanya.
Setiap kali hujan datang, proses belajar terutama di kelas 3, 4, dan 5 terpaksa dihentikan. Anak-anak disuruh keluar, karena selain takut bangunan ambruk, atap kelas juga bocor di banyak titik.
Tiga ruang yang rusak itu merupakan bangunan lama, sudah puluhan tahun tidak pernah diperbaiki. Sejak gempa bumi 2018, kondisinya makin parah.
"Bangunannya sekitar tahun 1990, sampai sekarang tidak pernah direnovasi, kalau retak-retak ini akibat gempa bumi tahun 2018 lalu. Selain tiga ruangan belajar, kondisi ruangan guru juga cukup parah," katanya.
Melihat situasi tersebut, Muhsan sempat mengusulkan sistem belajar dua sif, pagi dan siang, agar ruangan rusak bisa dikosongkan. Namun usulan itu ditolak karena dinilai kurang efektif.
Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, ia berencana membuat tenda sebagai ruang belajar darurat. Ia tidak ingin mengambil risiko jika bangunan tiba-tiba roboh.
Muhsan juga sebelumnya berinisiatif meminta tukang memperbaiki bagian yang rusak sedikit demi sedikit. Namun, tidak ada satu pun yang berani naik untuk mengecek kondisi bangunan.
Sekolah itu sudah berulang kali diusulkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim. Tahun 2024 lalu, bahkan dijanjikan akan direnovasi. Namun hingga kini belum ada kejelasan.
"Kami pasrah dengan kondisi sekolah ini, kalau diusulkan sudah sering kali, bahkan sudah sering disurvei, tapi sampai sekarang belum juga ada kejelasannya. Mudah-mudahan tahun 2026 bisa diperbaiki," tutupnya.
Editor : Siti Aeny Maryam