Lombokpost-Polres Lombok Timur (Lotim) menemukan sekitar 110 ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang diduga dioplos di sebuah gudang penyimpanan di Kecamatan Sikur.
Beras SPHP tersebut dicampur dengan butir menir secara berlebihan, sehingga tidak sesuai standar Bulog.
“Iya betul, dari hasil temuan di lapangan sekitar 110 ton beras diduga dioplos dengan cara dicampur dengan butir-butir menir,” kata Kasatreskrim sekaligus Kasatgas Pangan Polres Lotim AKP I Made Dharma Yulia Putra saat dikonfirmasi, Rabu (13/11).
Kasus ini terungkap setelah adanya laporan masyarakat yang membeli beras SPHP dari salah satu pedagang. Namun kualitasnya dinilai buruk dan tidak sesuai standar beras SPHP Bulog.
Menurut Made Dharma, pengemasan beras SPHP Bulog ukuran 5 kilogram seharusnya berisi beras medium. Tetapi ditemukan beras di bawah standar yang merugikan konsumen.
“Kami sudah memanggil sejumlah pihak, mulai dari beberapa saksi, pihak Bulog, termasuk pemilik gudang. Dari hasil penyelidikan sementara, kami menemukan adanya kesengajaan dalam pengoplosan beras tersebut sehingga merugikan masyarakat,” katanya.
Pihaknya telah mengambil sampel dan barang bukti beras untuk diuji di laboratorium. Diduga ada keterlibatan oknum pegawai Bulog dan mitra dalam kasus ini. Gudang tempat penyimpanan beras oplosan itu kini telah disegel dengan garis polisi.
“Gudang sudah kami pasangi garis polisi. Sejumlah pihak yang terlibat sudah dimintai keterangan. Kami akan lakukan penyelidikan lebih lanjut dan berharap dalam waktu dekat kasus ini bisa terang benderang,” ujarnya.
Kepala Cabang Bulog Lotim Supermansah membenarkan adanya dugaan pengoplosan beras SPHP di salah satu gudang di wilayah Sikur. Pengoplosan dilakukan menggunakan butir menir, bukan beras plastik.
“Bukan dengan beras plastik. Informasinya ada komplain dari masyarakat, sehingga tim satgas bergerak cepat,” katanya.
Ia menegaskan, jika ada oknum mitra atau pegawai Bulog Lotim yang terlibat, pihaknya tidak akan memberikan perlindungan. Proses hukum sepenuhnya diserahkan kepada Satgas Pangan. Sup er mansah b elum bisa memastikan jumlah pasti beras yang dioplos, namun berdasarkan informasi yang diterima, praktik tersebut sudah berlangsung lama.
“Informasinya sih begitu, sudah lama. Kami mendukung Satgas Pangan untuk menindak tegas para pelaku agar tidak terulang lagi,” singkatnya. (par/r7)
Editor : Jelo Sangaji