Lombokpost-Di sebuah bangunan sederhana mirip green house di Dusun Gawah Buak, ratusan burung puyuh menjadi jalan hidup baru bagi dua pemuda desa. Dari rasa penasaran dan belajar otodidak melalui video TikTok, Rusnadi dan Samiun kini menjelma menjadi peternak sukses yang memasok telur puyuh hingga kewalahan memenuhi permintaan.
Kandang puyuhnya disusun tiga tingkat. Dari bagian bawah, puluhan telur puyuh berjejer rapi di atas jaring kawat, siap dipanen. Satu kandang berisi 30–35 ekor burung puyuh petelur.
Rusnadi, salah satu pemilik Kuail Farm, bercerita tentang awal ketertarikannya menekuni peternakan puyuh. Semuanya bermula ketika ia berkunjung ke rumah temannya yang lebih dulu menjalankan usaha serupa.
"Karena penasaran kami berdua coba cari-cari informasi tentang puyuh ini. Bahkan kami lakukan riset beberapa bulan untuk menggali informasi masalah puyuh ini," terang Rusnadi saat ditemui, Minggu (23/11).
Informasi tambahan didapat melalui video TikTok dan artikel terkait. Mereka mempelajari kondisi pasar, bibit, penyakit, hingga teknik perawatan puyuh sebelum memutuskan memulai usaha.
"Makanya model kandang kami ini dua, ada yang pakai kawat dan bambu. Kandang bambu ini kandang pertama kami, karena waktu itu belum banyak pengalaman," imbuhnya.
Saat awal usaha, mereka membeli 500 ekor puyuh dengan modal patungan dan bantuan dari YBM PLN. Kurangnya pengalaman menyebabkan beberapa puyuh mati karena stres. Namun hal itu tidak membuat mereka berhenti, melainkan semakin tekun belajar.
"Alhamdulillah setelah belajar dan bertanya di teman-teman, sedikit demi sedikit masalah puyuh bisa kita lalui. Kalau tidak ada solusi di teman-teman kita cari di Tik tok. Makanya isi Tik tok saya tentang puyuh semua," katanya.
Menurutnya, beternak puyuh petelur tidak seribet ayam petelur. Puyuh tidak banyak membutuhkan vaksin, sementara ayam harus divaksin rutin tiga bulan sekali. Namun puyuh membutuhkan perhatian ekstra karena memiliki sifat kanibalisme.
"Kalau sudah ada tanda-tanda mau mematok temannya, kita harus siap. Makanya puyuh itu tidak boleh kurang pakannya. Dan kotoran harus tetap dibersihkan," ujarnya.
Saat pertama panen, mereka sempat bingung memasarkan telur. Seiring waktu, peminat semakin banyak hingga mereka kewalahan memenuhi permintaan. Bahkan tawaran datang dari dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun produksi harian belum mencukupi permintaan puluhan traY per hari, sehingga tawaran itu belum bisa diambil.
"Maknanya sekarang kami mau tambah 500 lagi. Kita kumpulkan modal dulu nanti kalau sudah banyak produksi, mungkin bisa kita masukkan ke dapur MBG," ungkapnya.
Adanya instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk menggantikan telur ayam dengan telur puyuh diakuinya menjadi peluang besar dan dorongan semangat untuk terus mengembangkan usaha.
Ia menyebut satu tray telur puyuh dijual Rp 35.000, bahkan saat bulan puasa bisa menembus Rp 40.000 lebih. Ke depan peternakan ini juga direncanakan menjadi paket wisata karena banyak tamu asing tertarik mencoba telur puyuh.
"Kita fokus pengembangan dulu, nanti kalau sudah punya ribuan bisa kita buat paket wisata dan masukkan ke dapur MBG. Sekarang masih menyisakan kandang dulu," tutupnya. (*/r7)
Editor : Prihadi Zoldic