Lombokpost - Desa Pengadangan merupakan salah satu desa yang cukup terkenal karena memiliki ragam budaya. Hampir setiap tahun pesona budaya diselenggarakan dengan mengangkat tema berbeda-beda, seperti yang dilakukan pada pesona budaya ke-7, yakni Metu Telu Napas Harmoni di Tanah Sasak.
Meski hujan lebat, antusias masyarakat tidak surut dalam rangkaian Pesona Budaya Desa Pengadangan VII. Laki-laki mengenakan pakaian adat putih dengan sapuk dan kain tenun hijau, sementara perempuan membawa ribuan dulang berisi makanan.
Dua pemimpin Bumi Patuh Karya juga hadir dan ikut menampilkan teatrikal Midang (ngapel) dan Metu Telu di Simpang Empat Desa Pengadangan yang menjadi pusat kegiatan budaya.
Bupati Lotim Haerul Warisin dalam sambutannya menyampaikan, teatrikal midang dengan adegan prosesi menumbuk padi menggunakan geneng memiliki makna.
“Segala sesuatu yang dikerjakan secara bersama-sama dan beriringan akan mudah terwujud dan diselesaikan,” terang Bupati Lotim Haerul Warisin saat penutupan Pesona Budaya Pengadangan.
Ia mengatakan, nilai moral dan komitmen menjaga budaya harus terus ditanamkan. Pemerintah akan memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan kebudayaan.
“Kami harap Dinas Pariwisata dapat memberikan perhatian lebih terhadap agenda setiap agenda budaya semacam ini. Budaya seperti ini harus terus dilaksanakan dan dilestarikan,” ujarnya.
Kata dia, keterlibatannya dalam prosesi adat membuat dirinya merasa seperti pulang ke rumah sendiri. Tahun 1980-an ia sering berkunjung ke Desa Pengadangan setiap libur sekolah untuk bermain dengan rekan-rekan sekolahnya.
Ia berharap, kegiatan tersebut terus dilaksanakan, bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk komitmen bersama menjaga dan melestarikan budaya.
Tokoh adat Desa Pengadangan Nasipudin menyampaikan, Metu dalam bahasa masyarakat Desa Pengadangan berarti muncul. Metu Telu diartikan sebagai kemunculan tiga tokoh yaitu tokoh agama, tokoh adat dan tokoh pemerintahan dalam melaksanakan amanah mencapai kesejahteraan, kemakmuran, keadilan dan transparansi dalam pembangunan.
“Ketika tiga tokoh ini berkolaborasi, dalam sebuah dusun atau desa, maka InsyaAllah desa-desa ini akan patuh dan tunduk terhadap tiga hal itu, sehingga apa yang direncanakan oleh pemerintah tidak akan sulit untuk terlaksana,” katanya.
Kegiatan pesona budaya menjadi hiburan masyarakat sekaligus mengingatkan para orang tua terhadap masa lalu. Mereka merasa bangga dan mengenang apa yang telah terjadi, mulai makanan, pakaian hingga aktivitas masyarakat dulu.
Pesona budaya juga menjadi ajang meningkatkan bakat dan minat pemuda karena banyak kegiatan digelar, seperti dendang budaya.
“ini juga menjadi momentum untuk melakukan pembinaan kepada generasi muda,” katanya.
Selain itu acara ini menjadi ajang silaturahmi antara masyarakat dengan tokoh agama, tokoh adat dan pemerintah. Ia meyakini silaturahmi mendatangkan rizki dan panjang umur.
Setiap kegiatan pesona budaya berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Mulai UMKM, tukang jahit hingga penenun tradisional di Desa Pengadangan karena pada puncak acara masyarakat menggunakan kain tradisional khas desa Pengadangan untuk berselimut.
“Karena Desa Pengadangan ini dulu menjadi daerah pegunungan yang cukup dingin sehingga rata-rata masyarakat menggunakan kain untuk berselimut karena waktu itu belum ada jaket,” imbuhnya. (*/r7)
Editor : Marthadi