Lombokpost-Baiq Wilasih menjalani hari-harinya di sebuah rumah tua yang nyaris roboh. Hanya ditemani tasbih dan ranjang besi yang menjadi tempat berlindung dari hujan yang merembes dari segala arah. Di usianya yang 87 tahun dan tanpa penglihatan, ia masih berharap rumah itu tersentuh bantuan.
Memasuki rumah berdinding tembok dan bedek itu, terlihat bagian atap mulai bolong di sejumlah titik. Dindingnya lapuk dimakan rayap. Lantai licin karena selalu digenangi air hujan.
Di pojok ruang tamu, ranjang besi kecil berdampingan dengan sofa tua, dipenuhi barang-barang, mulai dari makanan, pakaian, bantal hingga alat salat. Di tengah tumpukan itu, seorang perempuan tua duduk seorang diri. Dengan mukena masih melekat, tangannya tak henti memutar tasbih kayu seraya berzikir.
Dialah Baiq Wilasih 87 tahun warga Desa Kotaraja, Kecamatan Sikur. Ia tinggal seorang diri di rumah reot dalam keadaan tidak bisa melihat. Hampir seluruh sisi rumah rusak dan bocor, menunggu waktu untuk roboh.
"Rumah ini peninggalan orang tua saya, saya tinggal seorang diri di sini, saudara saya tinggal di desa lain," terang Wilasih dengan bahasa santun khas suku Sasak, Senin (1/12).
Meski mengalami gangguan penglihatan, pendengaran Wilasih masih tajam. Ia bisa mengenali setiap orang yang berbicara dengannya, bahkan sosok yang hanya beberapa kali menjenguk.
Wilasih tinggal sendiri sejak orang tuanya meninggal beberapa tahun silam. Di usia senja ini, ia tidak banyak berkegiatan. Hampir seluruh waktunya ia habiskan di ranjang kecil untuk beribadah dan berzikir.
"Di sini aja setiap hari, tidur, makan kadang masak sendiri. Kalau masak saya minta tolong di tetangga untuk cok nasi di magicom," imbuhnya.
Setiap hari, ada saja kerabat datang membawakan sepiring nasi dan lauk. Setiap Jumat ia selalu diantarkan makanan oleh pengurus masjid dan pedagang nasi bungkus khas Kotaraja.
Setiap aktivitas ia lakukan dengan meraba. Sejak kehilangan penglihatan beberapa tahun silam, ia tetap menjalankan salat tahajud hampir setiap malam.
"Sudah hafal di mana lokasi untuk wudhu dan kamar mandi," katanya.
Meski tak bisa melihat, Wilasih merasakan hampir semua sisi rumahnya rusak dan bocor. Setiap hujan turun, lantai tergenang dan menjadi licin. Satu-satunya tempat berlindung berada di pojok ruang tamu, di atas ranjang tua miliknya. Hampir semua barang ia tempatkan di ranjang itu.
Wilasih berharap rumahnya bisa direnovasi agar bisa hidup lebih aman dan nyaman. "Ingin sekali buatkan rumah yang lebih bagus. Kalau hujan saya takut, kadang tiba-tiba ada saja suara genteng yang jatuh atau kayu," tutupnya.
Selama ini ia hanya mendapatkan bantuan beberapa kali. Terakhir bantuan pangan berupa beras 10 kilogram dan bantuan langsung tunai (BLT) Dana Desa (DD) pada tahun 2024 lalu.
Wilasih juga tak memiliki BPJS Kesehatan. Jika sakit, dia dibelikan obat oleh tetangga atau keponakan di apotek.
Sementara itu, Sekdes Kotaraja Lalu Ahmad Yani menyampaikan, untuk renovasi rumah Wilasih saat ini desa terkendala alas hak. Rumah tersebut banyak yang merasa memiliki, mulai dari keponakan sampai saudara-saudara. Sebelumnya rumah itu sempat akan dibuatkan sertifikat melalui program PTSL, namun terjadi masalah antar keluarga sehingga desa tidak bisa melanjutkan.
"Kami tetap perhatikan dia tahun 2024 juga dapat bantuan BLT. Dan kemarin dapat bantuan pangan. InsyaAllah semua lansia kami perhatikan. Tapi, kalau untuk rumah ini kendala kami di alas hak itu saja," tutupnya.
Editor : Siti Aeny Maryam