Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Berkunjung ke Museum Desa Sakra, Digagas Sakra Milenial Bekerisan sebagai Jantung Ingatan agar Sejarah Terus Hidup di Masa Depan

Supardi/Bapak Qila • Senin, 8 Desember 2025 | 20:45 WIB
PENINGGALAN SEJARAH: Lalu Romi Agustana Sakraji saat melihat peralatan pertukangan zaman dahulu yang dipamerkan di Museum Desa Sakra, Minggu (7/12).
PENINGGALAN SEJARAH: Lalu Romi Agustana Sakraji saat melihat peralatan pertukangan zaman dahulu yang dipamerkan di Museum Desa Sakra, Minggu (7/12).

Lombokpost-Desa Sakra menjadi salah satu Desa di Lombok Timur (Lotim) yang memiliki museum desa. Meski tergolong masih baru, museum ini mendapat perhatian dari Museum NTB. Bahkan museum Desa Sakra ini mewakili Lotim untuk mengikuti lomba di tingkat Provinsi NTB.

Ruangan kecil di pojok Aula Kantor Desa Sakra itu tampak tersembunyi. Latar hitam menjadi konsep utama, menonjolkan deretan senjata tradisional seperti keris, tombak, pisau, serta peralatan pertanian zaman dahulu yang dipajang rapi. Sorot lampu hias membuat ruangannya terlihat estetik dan sakral. Ruangan kecil tersebut adalah Museum Desa Sakra.

Pengelola Museum Desa Sakra Lalu Romi Agustana Sakraji menceritakan, pembentukan museum desa ini digagas paguyuban Sakra Millenial Bekerisan pada awal Agustus 2025 lalu. Gagasan ini lahir dari banyaknya benda sejarah yang masih tersimpan di tengah masyarakat.

"Banyak masyarakat kita yang tidak tahu cara merawat benda-benda pusaka atau peninggalan orang tua kita dulu, sehingga dengan adanya museum ini kita akan rawat dan jaga benda-benda bersejarah itu di sini," terang Lalu Romi ini, Minggu (7/12).

Selain benda bersejarah, museum ini juga memajang foto-foto pemimpin dan tokoh Desa Sakra sejak tahun 1939. "Masih banyak benda-benda sejarah yang tersebar di masyarakat, namun belum kita ambil untuk dimasukkan di museum ini karena tempatnya masih sangat terbatas," katanya.

Pendirian Museum Desa Sakra lahir dari kebutuhan menjaga peninggalan leluhur agar tidak rusak, hilang, maupun terabaikan seiring waktu. Para pemuda dan pegiat budaya desa menyadari banyak artefak lokal tidak terawat karena kurangnya pengetahuan itu.

Dari kesadaran itulah muncul keinginan membangun wadah pengelolaan dan alih rawat warisan budaya Desa Sakra untuk memastikan ingatan sejarah tetap hidup dalam mempersiapkan masa depan.

"Museum ini bertujuan untuk menyediakan akses terbuka dan terstruktur bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk dapat melihat, menyentuh, dan mempelajari langsung sejarah yang terkandung dalam setiap artefak," katanya.

Museum desa ini juga menjadi sarana pendidikan non-formal yang efektif untuk memperdalam pemahaman terhadap akar budaya dan kearifan lokal.

Romi menyebut Museum Desa Sakra juga diharapkan menjadi jantung ingatan yang tidak hanya menyimpan, tetapi memancarkan kekuatan identitas lokal. Museum ini ke depan ditargetkan berkembang menjadi pusat riset komunitas yang menghasilkan kajian sejarah lokal.

"Kita juga berharap museum ini nantinya bisa menjadi destinasi edukasi budaya yang menarik wisatawan, membuka peluang ekonomi kreatif bagi desa," katanya.

Kepala Desa Sakra Zainul Arifin menambahkan, keberadaan museum desa ini akan menjadi tempat belajar bagi anak-anak muda Desa Sakra. Menurutnya, banyak anak muda saat ini tidak mengenali sejarah desa mereka.

"Di museum ini nanti yang kita tampilkan itu akan menampilkan sebuah sejarah yang menggambarkan Desa Sakra," katanya.

Untuk kelangsungan museum, Pemdes Sakra berkomitmen memberikan dukungan biaya pengelolaan. Desa juga menyiapkan lokasi yang lebih luas untuk museum tersebut.

Museum Desa Sakra telah mendapat apresiasi dari Museum NTB dan menjadi peserta lomba museum desa tingkat NTB. Bahkan museum ini masuk tiga besar terbaik dalam lomba itu.

"Kami kembali diundang untuk mengikuti pameran di museum NTB, sekaligus untuk pengumuman juara lomba Museum. Mudah-mudahan kita dapat juara nanti, karena kita sudah masuk tiga besar," pungkasnya. (*/r7)

 

 

 

 

Editor : Marthadi
#museum desa #sakra #museum #Lotim