Lombokpost-Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Timur (Lotim) meminta semua dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). IPAL dinilai penting agar limbah tidak dibuang sembarangan dan mencemari lingkungan.
"IPAL ini sangat penting. Dan pembangunan IPAL tidak bisa asal jadi, ada standar dan teknisi khusus," terang Kepala DLH Lotim Pathurrahman.
Selama ini, pihaknya belum mengecek secara langsung, apakah semua dapur MBG di Lotim sudah memiliki IPAL atau tidak. Namun, ia menyarankan semua dapur wajib memiliki IPAL. Ia khawatir limbah MBG yang tidak ditangani dengan baik akan memicu protes warga di kemudian hari.
DLH, lanjut Pathurrahman, hanya bekerja sama dengan MBG terkait pengangkutan sampah. "Ada yang menggunakan armada desa untuk pengangkutan sampah mereka. Kalau yang bekerja sama dengan kita baru 60 dapur," katanya.
Sebagian besar sampah dapur MBG merupakan sampah organik. Sampah ini diharapkan dapat diolah menjadi kompos atau pakan magot untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Sementara itu, Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Lotim Agamawan Salam menyampaikan, dapur MBG yang memiliki IPAL sejauh ini mencapai 80 unit, karena masih banyak dapur yang belum beroperasi.
"Yang sudah saya cek itu ada 80 titik yang sudah memilik IPAL. Untuk yang baru-baru bangun ini belum saya cek lagi," katanya.
Namun kata dia, berdasarkan hasil verifikasi tim, dari 162 dapur yang sudah terbangun di Lotim, rata-rata sudah memiliki IPAL. Dari jumlah itu, sebanyak 146 dapur sudah aktif menyalurkan MBG.
Berdasarkan syarat dan juknis pembuatan SPPG, semua dapur wajib memiliki IPAL. Persyaratan terbaru juga semakin ketat. Di antaranya dapur harus memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Chef MBG harus memiliki sertifikasi kompetensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
"Kemudian dapur juga harus memiliki IPAL. Bahkan aturan yang sekarang ini semakin diperketat. Kalau tidak ada IPAL maka mereka tidak bisa beroperasi," jelasnya. (par/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post