Lombokpost- Di balik dinginnya malam dan sunyinya jalur ekstrem Sembalun, tanggung jawab seorang bidan kerap diuji hingga batas keberanian. Kecepatan rujukan menjadi pertaruhan keselamatan nyawa ibu dan bayi.
Cuuuss, suara ban belakang ambulans pecah saat berusaha menaklukkan tanjakan terakhir puncak Sembalun. Hujan lebat yang turun sejak sore masih menyisakan jalan basah dan licin. Kerikil yang jatuh dari bukit berserakan di sepanjang jalan, membuat sopir ambulans ekstra hati-hati menginjak pedal gas.
Kejadian malam yang mencekam dan penuh ketegangan beberapa malam lalu itu masih jelas diingat Fitriwani, bidan desa di Kecamatan Sembalun. Malam itu menjadi salah satu dari sekian banyak malam ketika Fitriwani harus merujuk pasien ibu hamil ke RSUD dr R Soedjono Selong. Menghadapi cuaca ekstrem, menembus kabut tebal, hingga kondisi kendaraan yang rusak saat hendak melewati puncak paling ekstrem di Lombok.
Fitriwani menceritakan, kondisi pasien hari itu sudah sangat kritis. Hingga menjelang Magrib, Sembalun masih diguyur hujan lebat. Namun melihat kondisi pasien yang semakin parah dan akan melahirkan, ia terpaksa berangkat merujuk pasiennya, meskipun rintik hujan masih turun dan hari kian gelap.
"Kami sempat ragu untuk merujuk pasien. Tetapi karena tanggung jawab, akhirnya kami berangkat," beber perempuan yang akrab dipanggil Bidan Wani itu, sembari mengingat-ingat kejadian malam itu, Selasa (15/12).
Wani melanjutkan, di tengah perjalanan merujuk pasien, tepatnya di tanjakan terakhir pusuk dari arah Sembalun, ban ambulans yang mereka tumpangi tiba-tiba pecah. Mobil ambulans pun goyang di jalur sempit dan licin.
Di tengah kegelapan, hujan deras kembali turun disertai kabut tebal yang menyelimuti. Jarak pandang semakin terbatas dan suasana menuruni turunan curam Sembalun kian mencekam.
Kondisi itu membuat Wani semakin cemas dengan keselamatan mereka. Namun melihat sosok ibu yang terbaring lemas di dalam ambulans, ia berusaha tetap kuat dan menepis prasangka buruk di kepalanya.
"Saat menunggu ban diganti, saya takut tiba-tiba terjadi longsor. Saya hanya bisa berdoa dan berharap semoga pasien kuat menunggu," katanya.
Dingin dan hujan yang tak kunjung berhenti membuat proses penggantian ban ambulans berjalan cukup lama. Saat itu hanya ada dirinya, dua nakes, sopir ambulans, serta dua keluarga pasien yang mengikuti dari belakang. Beruntung, ada warga yang lewat dan membantu sebagai penerang.
Beberapa kali ia mencoba menghubungi rekan-rekannya di puskesmas untuk meminta bantuan. Namun di tengah hutan Sembalun, tidak ada sinyal sama sekali. Selama proses penggantian ban, pasien beberapa kali berteriak kesakitan di tengah hutan karena sudah hendak melahirkan.
"Perasaan saya semakin tidak keruan, mendengar jeritan pasien yang kontraksi. Apalagi Sembalun sangat rawan terjadi bencana alam, seperti longsor, pohon tumbang yang dapat menyebabkan akses utama tertutup total," katanya.
Jika terjadi longsor, mereka biasanya memutar arah melalui Sambelia. Namun jalur ini membuat jarak tempuh dari Kecamatan Sambelia menuju Kota Selong memakan waktu hingga 1,5 jam bahkan bisa lebih dari dua jam.
Wani mengatakan, merujuk pasien tengah malam dengan menembus cuaca ekstrem bukan kali pertama ia alami. Jalan yang terjal dan ekstrem membuat proses rujukan ke RSUD Selong menjadi tantangan terberat.
"Sudah beberapa pasien ibu hamil yang saya rujuk tengah malam. Bahkan beberapa kali kami harus memutar melalui Kecamatan Sambelia karena terjadi longsor," katanya.
Selain kondisi jalan, usia ambulans yang sudah tua karena terlalu sering digunakan naik turun pusuk Sembalun juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak jarang mereka harus meminjam ambulans desa yang kondisinya lebih baik untuk merujuk pasien ke RSUD Selong maupun rumah sakit lainnya di Selong.
Dalam sepekan, belasan pasien dirujuk. Pada kondisi darurat, seperti wisatawan yang terjatuh saat pendakian, pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit. Maklum, di Kecamatan Sembalun hanya terdapat puskesmas dengan sarana prasarana yang sangat terbatas, termasuk ketersediaan dokter spesialis.
"Kalau ada kejadian seperti pendaki jatuh, kami tidak bisa menunda. Kami harus segera berangkat. Bahkan kami pernah merujuk pasien jam 1 dan 2 malam saat cuaca juga sedang ekstrem," ujarnya. (bersambung)
Editor : Siti Aeny Maryam