Lombokpost-Perjuangan Fitriwani menjadi bidan desa, dalam memastikan kesehatan masyarakat hingga ke pelosok-pelosok desa Sembalun, tidak seimbang dengan kesejahteraan yang didapatkan. Namun, rasa bangga dapat menyelamatkan nyawa pasien menjadi kebanggaan dan semangat bagi Fitriwani dalam bekerja.
Tanggung jawab menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya menjadi kekuatan besar bagi Fitriwani, untuk melawan rasa takut saat merujuk pasien ke rumah sakit. Jalan curam, cuaca ekstrem, malam gelap, hingga ancaman bencana alam yang sewaktu-waktu bisa terjadi di perjalanan menjadi risiko yang harus ia hadapi.
Pikiran-pikiran negatif itu seketika hilang saat melihat pasiennya terbaring lemas di ranjang ambulans sambil menahan rasa sakit. Jalan terjal dan cuaca ekstrem diakui menjadi tantangan dalam proses rujukan ke rumah sakit. Tak jarang, pasien yang dirujuk meninggal dunia dan ibu hamil melahirkan di tengah hutan gelap gulita.
"Karena kita di Sembalun aksesnya jauh. Ibu hamil ada yang sampai melahirkan di tengah hutan yang sepi," terang Fitriwani.
Kondisi di Sembalun yang serba terbatas kerap membuatnya miris. Daerah yang telah mendunia dan setiap hari dikunjungi wisatawan dari berbagai negara itu belum didukung fasilitas kesehatan yang memadai.
Saat ada pendaki terjatuh, tenaga kesehatan di Puskesmas Sembalun kerap kebingungan memberikan tindakan, karena keterbatasan peralatan dan tenaga medis. Jalan satu-satunya yang bisa dilakukan adalah merujuk pasien ke RSUD Selong.
"Kalau memang tidak memungkinkan untuk membuat rumah sakit di Sembalun, paling tidak RSUD Selaparang yang ada di Kecamatan Suela, bisa ditingkatkan statusnya. Supaya kami tidak terlalu jauh merujuk pasien," katanya.
Keberadaan RSUD Selaparang sejauh ini diakui belum bisa menjadi rumah sakit rujukan. Padahal fasilitas tersebut sangat dibutuhkan pasien dari Kecamatan Sembalun, Sambelia, hingga Suela.
Selain aktif di Puskesmas, Wani juga melayani masyarakat melalui kegiatan posyandu. Ia kerap mendatangi ibu hamil dan ibu nifas hingga ke rumah-rumah di pelosok Sembalun. Untuk mencapai lokasi, ia harus berjalan kaki menyusuri hutan dan melewati jalan terjal.
Meski tugas dan tanggung jawab yang dijalani cukup berat, Wani tidak pernah mengeluh. Semua dikerjakan dengan ikhlas. Ada kebanggaan tersendiri saat berhasil menyelamatkan pasien dan pulang dengan selamat membawa buah hati mereka.
"Alhamdulillah yang kemarin itu pasiennya berhasil selamat tetapi terpaksa harus di operasi," katanya.
Sudah 1 dekade ini Wani mengabdikan diri sebagai bidan desa di Puskesmas Sembalun. Sayang, statusnya masih sebagai honorer, seperti sebagian besar tenaga kesehatan di Puskesmas Sembalun.
Pada 2025, Wani bersama rekan-rekannya di Puskesmas Sembalun masuk dalam usulan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paro Waktu. Hanya saja, bagi Wani, kebijakan tersebut tak diiringi dengan kesejahteraan.
”Gaji yang kami terima (di PPPK Paro Waktu) sama seperti sekarang, gaji kami sekarang Rp 500 ribu per bulan. Makanya banyak yang bilang, kami ini bekerja bertaruh nyawa, namun gajinya bercanda," ungkap Wani dengan getir.
Karena itu, Wani berharap Pemkab Lotim maupun Pemprov NTB memberikan perhatian lebih kepada tenaga kesehatan di Puskesmas Sembalun. Terlebih, rata-rata tenaga kesehatan di Puskesmas Sembalun telah puluhan tahun mengabdikan diri.
”Pak bupati dan pak gubernur sering ke Sembalun, jadi pasti tahu aksesnya seperti apa. Untuk itu kami berharap kesejahteraan kami diperhatikan,” tutupnya penuh harap. (*/r7)
Editor : Jelo Sangaji