Lombokpost-Direktur PT Energi Selaparang Joyo Supeno optimis produk Asel mampu bersaing dengan berbagai produk air minum dalam kemasan (AMDK) yang beredar di Lombok Timur (Lotim). Apalagi saat ini produk Asel telah tersebar di sejumlah wilayah di Lotim.
“Kita siap bersaing. Karena dari semua sisi kita sudah lengkap dan bagus, dari legalitas maupun kualitas produk sendiri,” kata Joyo Supeno.
Saat ini pasar terbesar produk Asel masih berasal dari instansi pemerintahan, dari tingkat kabupaten hingga kecamatan, seperti Puskesmas, UPTD, dan sekolah. Produk Asel juga telah masuk ke toko-toko besar dan memiliki reseller di sejumlah kecamatan.
Ke depan, Asel ditargetkan bisa masuk ke ritel modern. Dengan dukungan Pemkab Lotim, Joyo optimis produk Asel mampu menguasai pasar.
“Insya Allah kami bisa memberikan income kepada daerah. Tetapi kami belum bisa pasang target berapa yang akan kami berikan,” jelas Joyo.
Saat ini produksi Asel, khususnya kemasan gelasan, mencapai 1.700 dus per delapan jam per hari.
Ia menargetkan pada triwulan pertama tahun 2026 produksi meningkat menjadi 2.500 dus per hari dengan memanfaatkan dua mesin produksi.
Dengan kapasitas dua mesin yang mampu memproduksi hingga 800 dus per jam, pihaknya akan terus meningkatkan jumlah produksi hingga mencapai kemampuan maksimal mesin. Produksi saat ini masih disesuaikan dengan jumlah tenaga kerja yang tersedia.
“Nanti pelan-pelan kita akan tambah jumlah produksi kita. Sambil kita tambah juga tenaga kerja kita,” katanya.
Ia menegaskan, pengelolaan PT Energi Selaparang kini dilakukan lebih ketat dan teliti, terutama terkait distribusi produk.
Setiap produk yang keluar harus menghasilkan dan tidak ada produk gratis bagi OPD atau pihak mana pun yang mengatasnamakan bupati.
“Sejauh ini belum ada yang minta-minta dengan mengatasnamakan bupati atau siapa. Karena kami juga sudah berikan pemahaman, kalau kondisi kita baru bangkit,” katanya.
Sebelumnya Bupati Lotim Haerul Warisin menekankan pekerja dan direksi PT Energi Selaparang dapat bekerja dengan baik agar perusahaan tetap berjalan.
Ia juga meminta pengawasan ketat terhadap proses produksi AMDK untuk memastikan perusahaan tidak kembali bangkrut.
“Dengan kembali beroperasinya perusahaan ini, kami harap bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak. Minimal tenaga yang terserap 100-150 orang,” katanya. (par/r7)
Editor : Jelo Sangaji