Lombokpost-Di tengah ancaman kerusakan lingkungan dan ketidakpastian iklim, Komunitas Pringgabaya Meriri memilih bergerak lebih awal, menautkan kepedulian, gotong royong, dan harapan agar alam tetap lestari dan sumber kehidupan tidak hilang di kemudian hari.
Pagi itu, puluhan orang berjejer di pinggir sungai.
Mereka datang dari berbagai latar belakang, pemuda, komunitas pencinta alam, TNI-Polri, hingga santri. Sejumlah peserta terlihat membawa cangkul dan menenteng bibit pohon.
Hari itu, mereka berkumpul untuk menanam ribuan pohon di sepanjang bantaran sungai dan di sekitar mata air.
Kegiatan yang diinisiasi Komunitas Pringgabaya Meriri tersebut tidak sekadar menanam pohon.
Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi upaya menanam harapan demi keberlangsungan lingkungan dan menjaga mata air Pringgabaya di masa depan.
Founder Pringgabaya Meriri Mizanul Aohana menyampaikan, penanaman seribu pohon dilakukan di empat titik, yakni daerah aliran sungai Kokok Goge, Kokok Belepa, Kokok Desa, serta kawasan mata air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Melalui kegiatan ini ingin menunjukkan semangat gotong royong kembali hidup, dalam satu tujuan yakni menjaga alam agar tetap memberi kehidupan," terang Mizanul Aohana.
Kata dia, jika mata air rusak dan kering, sawah-sawah juga akan ikut mengering. Kondisi itu akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Karena itu, kegiatan ini dinilai penting untuk dilakukan.
“Mata air sebagai sumber kehidupan bagi kita, untuk itu melalui kegiatan ini menjadi upaya menjaga keberlangsungan mata air, yang ada yang selama ini telah banyak memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, khusus di daerah aliran sungai Kokok Desa, penanaman difokuskan pada pohon pelindung. Sebab, aliran sungai di kawasan tersebut mulai tergerus dan berpotensi menimbulkan bencana longsor serta erosi yang dapat membahayakan masyarakat sekitar.
Baca Juga: Dukung Pariwisata Hijau, Delegasi Indonesia Gastrodiplomacy Series Tanam Pohon di KEK Mandalika
“Kami khawatir kalau tidak ditanami sekarang, lima atau sepuluh tahun ke depan tanah di bantaran sungai akan habis tergerus,” katanya.
Camat Pringgabaya Liza Sugiartini juga ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Ia mengapresiasi inisiatif dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar.
“Kami sangat mengapresiasi. Apa yang dilakukan komunitas Pringgabaya Meriri ini, kegiatan ini sangat berarti. Apalagi saat ini tidak banyak yang mau bergerak untuk lingkungan,” ujarnya.
Ia menyebutkan, Pringgabaya berada di wilayah aliran sungai sehingga potensi terjadinya bencana selalu ada. Karena itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah pencegahan bencana alam di masa mendatang, seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatra saat ini.
Peristiwa banjir dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Sumatera diharapkan menjadi pelajaran penting bagi semua pihak untuk bersama-sama menjaga lingkungan.
Karena itu, pihaknya berkomitmen untuk mendorong gerakan serupa di desa-desa lain di Pringgabaya, terutama desa yang berada di sepanjang aliran sungai.
"Akar-akar pohon ini kelak akan menguatkan tanah, daunnya meneduhkan. Keberadaannya juga akan menjadi penanda bahwa masyarakat Pringgabaya memiliki kepedulian dan merawat alam, bukan mengabaikannya," tutupnya. (*/r7)
Editor : Kimda Farida