Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Merawat Manis Gula Aren dari Pedalaman Desa Tetebatu Selatan

Supardi/Bapak Qila • Selasa, 30 Desember 2025 | 17:06 WIB

 

Salah seorang warga Dusun Keselet Aren menuangkan air nira yang dimasak, sebelum diolah menjadi gula merah.
Salah seorang warga Dusun Keselet Aren menuangkan air nira yang dimasak, sebelum diolah menjadi gula merah.

Lombokpost-Dusun Keselet Aren yang berada di Desa wisata Tetebatu Selatan cukup terkenal dengan ekowisata gula arennya. bahkan dusun ini menjadi salah satu sentra produksi produk gula aren di Lombok Timur.

Memasuki pintu masuk dusun yang berada jauh di pedalaman Desa Wisata Tetebatu Selatan, ratusan pohon aren berjejer di sepanjang jalan. Pohon-pohon itu tumbuh subur dan menjulang tinggi, berdampingan dengan berbagai tanaman buah di pekarangan hingga kebun warga.

Dari dapur-dapur sederhana milik warga, kepulan asap membumbung ke udara. Aroma gula aren setengah jadi menyeruak dari berbagai sudut. Saat itu, warga Dusun Keselet Aren, Desa Tetebatu, tengah memproduksi gula aren dari air nira yang baru selesai disadap.

Sesuai namanya, Keselet Aren, Dusun ini menjadi salah satu sentra produksi gula aren di Desa Tetebatu Selatan, Lombok Timur (Lotim). Selain menghasilkan produk sederhana yang dibuat secara tradisional, warga mulai mengembangkan inovasi dengan menghadirkan beragam olahan gula aren.

"Sebagian besar masyarakat kami membuat gula aren secara tradisional. Hanya dicetak menggunakan batok kelapa kemudian dijual," terang Kepala Wilayah (Kawil) Dusun Keselet Aren Abdullah kepada Lombok Post.

Ia sendiri kini mulai mengembangkan berbagai produk turunan dari air nira. Langkah ini diharapkan dapat menjadi contoh sekaligus mengedukasi masyarakat sekitar agar lebih kreatif mengolah air nira.

Produk yang dikembangkan tidak lagi sebatas gula batok. Beragam olahan lain mulai dihasilkan, seperti gula gambir, sirup gula aren, gula semut, hingga dodol gula aren.

"Yang mengembangkan produk ini baru saya saja. Sebagian besar masyarakat hanya membuat gula batok saja," katanya.

Permintaan gula aren diakui cukup tinggi, terutama produk olahan seperti sirup gula aren. Pembeli kerap datang langsung ke dusun. Bahkan, dirinya mengaku kewalahan memenuhi permintaan.

Namun demikian, sebagian masyarakat masih memilih cara instan dengan menjual langsung hasil sadapan tanpa diolah. Alasannya sederhana, lebih cepat mendapatkan uang. Padahal, dari sisi nilai ekonomi, hasilnya jauh lebih besar jika diolah.

"Misalnya gula batok yang ukuran 4 kilogram. Kalau kita jual langsung harga tertinggi itu Rp 120 ribu. Tetapi kalau kita olah jadi produk misalnya gula gambir dan sirup aren, yang ukuran 4 kilogram itu bisa dijual sampai Rp 300 ribu," katanya.

Di Dusun Keselet Aren, tanaman aren menjadi pohon yang dilindungi masyarakat. Pohon ini menjadi mata pencaharian hampir sebagian besar warga.

Penebangan pohon aren pun tidak bisa dilakukan sembarangan. Sudah ada awiq-awiq atau peraturan adat yang melarang penebangan pohon aren, terutama yang berada di kebun.

Meski hampir semua warga memiliki pohon aren, tidak semua bisa melakukan penyadapan. Proses penyadapan air aren hanya dilakukan orang-orang tertentu. Di Dusun Keselet Aren, hanya sekitar 30 orang yang memiliki keahlian tersebut.

Potensi aren di dusun ini diakui sangat besar. Dalam sekali panen, seorang petani bisa memperoleh lebih dari 30 liter air nira. Dalam sehari, penyadapan bahkan bisa dilakukan hingga dua kali.

"Potensinya cukup bagus, makanya sekarang dusun Keselet Aren ini menjadi Ekowisata gula aren. Di mana selain kita menjual produk yang sudah jadi. Kita juga menjual paket wisata pembuatan gula aren kepada wisatawan," katanya. (*/r7)

Editor : Jelo Sangaji
#gula merah #ekowisata #Tetebatu #gula aren #Lotim #Desa Wisata