Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Yazid Ar Rizky Bocah yang Langganan Juara Matematika dan Sains

Supardi/Bapak Qila • Rabu, 14 Januari 2026 | 22:21 WIB

Muhammad Yazid Ar Razy.
Muhammad Yazid Ar Razy.
Lombokpost - Di tengah riuhnya dunia anak-anak, Muhammad Yazid Ar Rizky justru sibuk menaklukkan angka. Usahanya sukses mengoleksi puluhan medali Matematika dan Sains di level nasional pada usia tujuh tahun. 

Usianya baru 7,5 tahun. Namun, langkah Muhammad Yazid Ar Rizky di dunia kompetisi akademik sudah melampaui usianya. Siswa kelas 1 SDN 3 Pancor ini membuktikan usia belia bukan penghalang untuk mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional.

Sejak masih di bangku Taman Kanak-kanak (TK), bocah asal Kampung Baru Rumah Sehat, Kelurahan Majidi, Lombok Timur (Lotim) ini sudah akrab dengan angka dan rumus. Ketertarikannya pada Matematika dan Sains membawanya ke berbagai panggung kompetisi, terutama setelah ia mengasah kemampuan di kelas bimbingan Olimpiade Pena Cendikia Nusantara.

Nurhayati, sang ibu, menceritakan bagaimana putra kecilnya itu mulai mengoleksi penghargaan sejak dini. Dari tingkat kabupaten hingga nasional, Yazid hampir tidak pernah pulang dengan tangan hampa.

"Alhamdulillah sering dapat emas," tutur Nurhayati kepada Lombok Post, Selasa (13/1).

Selain puluhan medali perak saat TK, prestasi Yazid terus meroket di awal tahun 2026. Teranyar, ia berhasil menyabet medali emas Matematika dan medali perak Sains pada Kompetisi Pelajar Juara Indonesia (Komperasia) yang digelar 10 Januari 2026 lalu.

Perjalanan Yazid bukannya tanpa tantangan. Pada akhir Desember 2025, ia sempat berkompetisi di ajang Venus tingkat nasional. Meski harus puas dengan posisi kedua, semangatnya tidak surut.

"Pada kompetisi Venus 2025, di tingkat Kabupaten sampai Provinsi Yazid berhasil meraih medali emas. Tapai di tingkat nasional dapat perak," jelas Nurhayati.

Kini, lemari prestasinya kian penuh. Selama duduk di bangku SD saja, Yazid telah mengumpulkan masing-masing empat medali emas tingkat kabupaten dan provinsi, serta satu medali emas tingkat nasional untuk bidang Matematika.

Kunci keberhasilan Yazid terletak pada disiplin dan dukungan lingkungan. Selain bimbingan di Pena Cendikia, ia mendapatkan arahan langsung dari ibunya di rumah. Namun, Nurhayati tetap menjaga agar Yazid tidak kehilangan masa kecilnya.

"Selain mengikuti les, saya juga yang membimbing di rumah, tapi sesekali tidak rutin karena saya tidak mau memaksa. Saya kebetulan juga menjadi guru matematika," ungkapnya.

Ia berharap prestasi ini kelak menjadi tiket bagi Yazid untuk meraih beasiswa di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Ketua Yayasan Pena Cendikia Nusantara Abd Basid Baidowi turut menyampaikan rasa bangganya. Baginya, Yazid adalah representasi anak daerah yang mampu berbicara banyak di kancah nasional.

"Prestasi Yazid ini adalah buah dari kerja sama yang solid antara siswa, orang tua, guru sekolah, dan tutor kami yang berdedikasi dalam membangun konsep dan mental juara," paparnya.

Basid menekankan, lembaga yang dipimpinnya tidak hanya fokus pada materi teknis, tetapi juga membangun karakter kompetitif. Strategi berpikir kreatif dan pengenalan tipe soal olimpiade menjadi menu harian yang diberikan untuk melengkapi pendidikan formal di sekolah.

Baca Juga: Rosita, Siswi MAN Lobar Raih Juara Olimpiade Matematika

"Sinergi antara motivasi keluarga, pendidikan formal di sekolah, dan pendampingan profesional di lembaga bimbingan menciptakan ekosistem belajar yang ideal bagi tumbuhnya prestasi," pungkasnya.

Kisah Yazid kini menjadi inspirasi baru bagi pelajar di Lombok Timur. Sebuah pengingat bahwa mimpi besar bisa dimulai dari langkah-langkah kecil di ruang kelas sekolah dasar. 

Editor : Marthadi
#prestasi #sains #matematika #hitung cepat #olimpiade