LombokPost - Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Lombok Timur (Lotim) menilai keberadaan Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) di tingkat desa belum optimal. Saat ini, belum semua desa di Lotim memiliki Redkar.
“Belum optimal, untuk itu kami akan melakukan pembinaan secara berkala terhadap relawan agar pelayanan di masyarakat lebih cepat,” terang Kepala Damkarmat Lotim Lalu Dami Ahyani, Minggu (18/1).
Pembentukan Redkar di desa diakui masih jauh dari Standar Pelayanan Minimal (SPM). Hingga kini, Redkar baru terbentuk di 33 desa yang tersebar di 16 kecamatan dari total 254 desa/kelurahan dan 21 kecamatan di Lotim.
Lalu Dami menyebut jumlah itu belum memenuhi ketentuan standar pelayanan minimal sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri, khususnya terkait response time saat terjadi kebakaran.
“Tahun ini kita akan melanjutkan pembentukan Redkar di Lotim, dengan fokus pada desa-desa yang berdasarkan hasil pemetaan memiliki potensi kebakaran tinggi. Desa dengan tingkat kerawanan kebakaran akan menjadi prioritas,” katanya.
Selain keterbatasan jumlah, ia mengakui adanya kekeliruan pola pembentukan Redkar pada periode sebelumnya. Menurutnya, pembentukan Redkar seharusnya dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, hingga tingkat desa.
Ia menyebut Redkar tingkat desa yang telah terbentuk sebelumnya belum memiliki struktur pembinaan karena belum adanya Redkar tingkat kecamatan dan kabupaten. Hal ini menjadi salah satu penyebab belum optimalnya Redkar tingkat desa dalam menjalankan tugas.
”Mereka belum punya struktur yang jelas mulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat kabupaten, sehingga ini yang mengakibatkan tugas mereka belum optimal,” katanya.
Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Kebakaran Dinas Damkarmat Lotim Athar terus berupaya mengatasi kasus kebakaran di Lotim. Salah satunya dengan menggelar pelatihan pemadaman kebakaran kepada Redkar di sejumlah kecamatan dan desa.
“Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan relawan dalam memadamkan api, baik menggunakan alat tradisional maupun modern yang ada,” terang Athar.
Materi pelatihan meliputi teknik pemadaman api dengan alat tradisional dan modern, penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), serta cara memberikan pertolongan pertama pada korban kebakaran.
“Para peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya pencegahan kebakaran dan cara mengidentifikasi potensi kebakaran di lingkungan sekitar,” pungkasnya. (par/r7)
Editor : Prihadi Zoldic