Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perjalanan Suhamdi Membangun Kiara Bakery

Supardi/Bapak Qila • Senin, 26 Januari 2026 | 20:53 WIB

 

ROTI DONAT: Salah seorang karyawan Suhamdi saat membuat donat di rumah produksi Kiara Bakery
ROTI DONAT: Salah seorang karyawan Suhamdi saat membuat donat di rumah produksi Kiara Bakery

LombokPost - Rumah sederhana Suhamdi, bukan hanya sebagai tempat istirahat bersama keluarga. Namun rumah itu menjadi saksi perjalanannya merintis usaha roti, yang juga membuka jalan nafkah bagi masyarakat sekitar.

Aroma roti panggang menyeruak tertiup angin dari balik rumah sederhana di dekat jalan raya Paokmotong-Masbagik. Saat memasuki gang yang hanya bisa dilewati sepeda motor tersebut, terlihat puluhan orang sibuk dengan tugas masing-masing di dalam rumah.

Hampir semua kamar dan ruang tamu dipenuhi berbagai produk roti. Mulai dari roti tawar, donat, brownies, hingga beragam varian lain. Puluhan jenis roti itu merupakan produk pabrik roti milik Suhamdi, warga Bila Sundung, Desa Paokmotong, Kecamatan Masbagik.

Di sela kesibukan, Suhamdi mengisahkan perjalanannya merintis usaha roti bersama sang istri sejak 2018. Bisnis ini dimulai dari titik nol dengan hanya bermodal satu karung tepung.

"Kita merintis dari nol, tidak pernah ada bantuan sama sekali,” kenang Suhamdi menceritakan awal membangun Kiara Bakery miliknya, Minggu (25/1).

Belum setahun berjalan, ia harus menghadapi cobaan pandemi Covid-19 yang berdampak langsung terhadap bisnisnya. Saat itu, usaha rotinya sepi pembeli bahkan nyaris tutup. Namun, kondisi itu tidak membuatnya menyerah. Suhamdi memilih bertahan meskipun harus tertatih-tatih menjalankan roda bisnisnya.

"Datang virus Corona yang membuat bisnis kami hancur, tapi kami tetap bertahan dan mencoba bangkit lagi," katanya.

Dari modal satu karung tepung ukuran 25 kilogram, kini Suhamdi mampu memproduksi roti dengan bahan delapan karung terigu atau setara dua kuintal tepung per hari. Varian roti yang dibuat mulai dari roti tawar, donat, brownies, hingga roti kecil seharga Rp 2.000.

"Hasil produksi terutama roti tawar kita kirim ke toko frozen food dan beberapa reseller. Pemasaran saat ini sudah sampai ke Praya, Lombok Tengah bahkan sempat ke Mataram," ungkapnya.

Dalam menjalankan usaha, Suhamdi mempekerjakan 12 karyawan tetap dari masyarakat sekitar. Pemasarannya pun didukung 20 reseller. Pahit manis bisnis telah ia lalui. Tak jarang roti dikembalikan karena tidak laku. Terlebih saat musim buah tiba, yang menjadi saingan terberat bisnis roti.

"Kalau musim buah banyak roti yang kembali karena sudah jamuran akibat tidak laku dan harus dibuang, kadang juga dibuat menjadi pakan ikan," katanya.

Untuk menambah omzet, Suhamdi sudah berulang kali menawarkan produknya ke dapur-dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lotim. Namun, sejauh ini baru diterima satu dapur MBG di Kecamatan Pringgasela dengan permintaan yang belum kontinu.

Sekali order, dapur MBG biasanya memesan roti tawar sebanyak 3.200 picis. Suhamdi yakin Kiara Bakery mampu memenuhi standar kualitas dan gizi yang dibutuhkan program tersebut dengan jenis produk apa pun.

Selain berharap pada program MBG, ia juga berharap perhatian dari dinas terkait, terutama bantuan mesin oven roti. Sebab, saat ini ia masih menggunakan mesin manual dengan kapasitas produksi terbatas.

“Mesin oven masih menggunakan mesin manual yang kita beli dari Lombok Barat,” tutupnya. (*/r7)

Editor : Prihadi Zoldic
#bakery #roti #Mbg #Makan Bergizi Gratis (MBG) #Lotim