Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Festival Tiyu, Pawai Kuda Warisan Leluhur di Desa Jantuk Berawal dari Medan Perang, Kini untuk Merayakan Hari Kemenangan

Supardi/Bapak Qila • Rabu, 25 Maret 2026 | 20:00 WIB

 

TRADISI TIYU: Sejumlah pemuda di Desa Jantuk saat persiapan mengikuti acara tradisi Tiyu untuk meramaikan Idul Fitri
TRADISI TIYU: Sejumlah pemuda di Desa Jantuk saat persiapan mengikuti acara tradisi Tiyu untuk meramaikan Idul Fitri

Lombokpost -Desa Jantuk, Kecamatan Sukamulia, memiliki cara unik untuk memeriahkan Idul Fitri dengan mengadakan Festival Tiyu atau pawai kuda. Festival ini menjadi tradisi yang telah digelar bertahun-tahun.

GEMA takbiran masih terdengar dari berbagai penjuru. Suasana lebaran terasa kuat di Desa Jantuk, Kecamatan Sukamulia. Sejak sore, masyarakat mulai memadati jalan desa. Anakanak hingga orang tua ikut meramaikan suasana.

Puluhan warga, laki-laki dan perempuan, tampak menunggangi kuda. Mereka bolak-balik melewati jalan desa sepanjang kurang lebih 500 meter. Sore itu masyarakat bersiap menggelar Tiyu atau Festival Pawai Kuda untuk memeriahkan Idul Fitri.

Baca Juga: Mataram Mall : Arena Pacuan Kuda Raja hingga Gemerlap Pasar Malam Cilinaya

Kepala Desa Jantuk Yudi Hermawan mengatakan, tradisi Tiyu merupakan agenda tahunan masyarakat Desa Jantuk. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni pada tanggal 1-2 Syawal.

“Tradisi ini dilakukan dalam rangka memeriahkan bulan Syawal atau lebaran sekaligus memeriahkan hari kemenangan usai menjalani puasa,” terang Yudi.

Ia menjelaskan, kata Tiyu dalam bahasa Jantuk berarti pawai kuda. Namun, diketahui pasti belum awal mula tradisi ini karena tidak ada dokumen sejarah yang jelas.

Baca Juga: Lukisan Kuda Api Karya SBY Laku Rp 6,5 Miliar dan SBY Sudah Beberapa Kali Melelang Lukisannya, Hasilnya untuk Masyarakat Prasejahtera

Berdasarkan penuturan tetua desa, tradisi ini berawal dari konflik Kerajaan Selaparang di Lombok Timur (Lotim) dengan Kerajaan Karangasem Bali.

“Untuk bertahan bantuan, Kerajaan Selaparang meminta pasukan berkuda dari Kerajaan Gowa, Sumbawa,” jelasnya.

Setelah berhasil memukul mundur pasukan Karangasem, sebagian prajurit Gowa memilih menetap di Desa Jantuk. Hal ini diperkirakan dari bahasa sehari-hari masyarakat.

Baca Juga: Awas Sial di Tahun Kuda Api! 5 Shio Ini Dilarang Bongkar Rumah Kalau Tak Mau Rezeki Seret, Ini Rahasianya!

Desa Jantuk yang menggunakan bahasa Sumbawa. Kuda yang sebelumnya digunakan untuk mempublikasikan kemudian dimanfaatkan untuk merayakan kemenangan. Dari tertanamnya tradisi Tiyu dikenal dan terus dilestarikan masyarakat hingga saat ini.

“Sejak itu tradisi ini terus dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakatnya Jantuk hingga hari ini, setiap lebaran Idul Fitri,” jelasnya.

Tradisi Tiyu menjadi bentuk perayaan kemenangan setelah sebulan menahan hawa nafsu. Kegiatan ini juga mempererat silaturahmi masyarakat Desa Jantuk. Pawai kuda dilaksanakan di lintasan sepanjang kurang lebih 500 meter atau sepanjang jalan Desa Jantuk.

Baca Juga: Hoki Melimpah! Shio Tikus dan Kerbau Bakal Berjaya di Tahun Kuda Api 2026

Kegiatan dimulai setelah hari raya pada sore hari dan mencapai puncak pada pukul 03.00 Wita dini hari.

“Puncak pawainya pada pukul 03.00 dini hari di hari kedua, waktu ini sudah menjadi ketentuan dan sudah turun-temurun,” jelasnya.

Pada Lebaran Idul Fitri 1447 H/2026, tradisi Tiyu diikuti sebanyak 189 ekor kuda. Selain milik warga setempat, kuda juga didatangkan dari berbagai daerah di Pulau Lombok, seperti Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Lombok Utara.Masyarakat bahkan rela menyewa kuda dari daerah lain dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per ekor.

Baca Juga: Hoki Melimpah! Shio Tikus dan Kerbau Bakal Berjaya di Tahun Kuda Api 2026

Salah seorang warga, Andi mengatakan, dua minggu sebelum Idul Fitri, ia sudah mempersiapkan kuda untuk mengikuti kegiatan tersebut. Ia bahkan mencari kuda hingga ke Lombok Barat.

"Semakin kuda besar dan gagah, maka kami semakin percaya diri saat tampil. Makanya kami berkeliling se-pulau Lombok untuk mendapatkan kuda sesuai kriteria," jelasnya.

Antusiasme masyarakat terhadap tradisi ini sangat tinggi. Warga yang berada di luar daerah bahkan rela pulang kampung untuk mengikuti pawai Tiyu. (*/r7)

Editor : Prihadi Zoldic
#idul fitri #kuda #syawal #FESTIVAL #Adat