LombokPost---Selain stroberi, kopi, bawang putih, dan sayur-sayuran, kini alpukat Hass menjadi primadona baru bagi petani Sembalun.
Mengingat harga alpukat ini dinilai cukup mahal dibandingkan varietas biasa.
“Harga alpukat Haas ini jauh lebih mahal dari jenis lokal. Kulit alpukat ini sedikit kasar dari alpukat biasa pun dengan rasanya lebih enak,“ terang salah seorang petani alpukat Sembalun, Aras, Rabu (8/4).
Harga alpukat Hass bisa mencapai Rp 50 ribu per kilogram.
Jauh berbeda dengan varietas biasa, yang biasanya dihargai hingga Rp 15 ribu.
Selain harga yang lebih mahal, alpukat jenis ini juga dinilai lebih produktif.
Baca Juga: Antrean Haji Tembus 26 Tahun, Menhaj Mochamad Irfan Yusuf Siapkan Skema War Tiket
Hal ini terlihat dari hasil panen perdana di usia pohon 1,5 tahun, setiap batang mampu menghasilkan 80-90 kilogram buah alpukat.
“Saya mulai menanam alpukat ini sejak tahun 2022 lalu di lahan seluas 30 are yang ada di sekitar penginapan, dengan jumlah pohon sekitar 87 pohon, hasilnya lumayan banyak dibandingkan dengan jenis biasa,“ katanya.
Untuk penjualan, ia menggunakan konsep agrowisata.
Baca Juga: 11 Siswa SMAN 4 Mataram Lolos SNBP 2026, Tembus PTN Favorit
Para tamu yang menginap di penginapannya, terutama wisatawan mancanegara, ditawarkan untuk memetik alpukat sendiri.
Memetik buah langsung dinilai memberi kesan tersendiri, bahkan tidak sedikit tamu berani membayar lebih dari harga pasar yang ditentukan.
Permintaan alpukat Hass ini juga diakui cukup tinggi.
“Permintaan sangat tinggi, rata-rata tiap orang bisa beli di atas 10 kilogram. Alpukat ini sangat digemari turis karena tekstur dagingnya yang padat, kandungan air yang rendah, serta daya simpan yang lama,“ katanya.
Untuk perawatan alpukat varietas Hass ini rata-rata petani menggunakan pertanian organik tanpa pupuk berbahan kimia.
Hal ini dinilai cukup berpengaruh terhadap produksi alpukat.
Kendati demikian, ia mengakui masalah pemasaran masih menjadi tantangan, terutama petani yang tidak memiliki penginapan kerap kesulitan memasarkan alpukat mereka, terlebih saat musim panen raya tiba.
Untuk itu, ia berharap pemerintah bisa membantu petani.
“Budi daya kami sudah bisa, buahnya juga besar-besar sampai 350 gram per biji. Tapi yang jadi masalah itu pemasarannya harus ke mana kalau sudah panen raya,” katanya. (par/r7)
Editor : Kimda Farida