LombokPost-Kepala Cabang Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Lombok Timur (Lotim) Supriadi meminta calon siswa SMA/SMK tidak memaksakan diri masuk sekolah favorit pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Ia mengingatkan masih banyak sekolah lain yang bisa menjadi pilihan jika calon siswa tidak lulus verifikasi di sekolah tujuan utama.
“Masih ada sekolah lain. Karena kalau misalnya harus di sekolah itu, susah juga nanti ketika mereka tidak diterima,” terang Supriadi, Kamis (4/6).
Jika proses telah diikuti sampai selesai dan persyaratan sudah lengkap, namun berdasarkan hasil verifikasi dinyatakan tidak lulus, wali murid diharapkan menerima keputusan sekolah dan mencari sekolah lain.
Baca Juga: SPMB SMAN 3 Mataram Jalur Afirmasi Masih Sepi, Baru 14 Pendaftar Tervalidasi
Disebutkan, sejauh ini sekolah-sekolah besar atau favorit tetap menjadi incaran siswa-siswi baru. Bahkan, sejak hari pertama pembukaan pendaftaran, beberapa SMA/SMK di Lotim sudah menerima pendaftaran hingga lebih dari 100 siswa.
“Kami pantau ada sekolah yang pendaftarannya sudah ratusan. Di hari pertama SPMB masih belum ada aktivitas, karena banyak anak-anak yang belum keluar Surat Keterangan Lulusnya. Pendaftaran mulai ramai pada hari kedua,” jelasnya.
Pelaksanaan SPMB melalui daring diakui terkendala sistem atau aplikasi pendaftaran yang sering mengalami gangguan dan terkesan lelet. Namun, hal itu telah dikoordinasikan dengan Dikpora NTB untuk menyelesaikan masalah itu.
Baca Juga: SPMB NTB 2026 Dibuka, Simak Jadwal, Kuota dan Syarat Masuk SMA Negeri
Kendala lainnya, tidak semua orang tua dan siswa paham teknologi. Sehingga masih membutuhkan operator atau bantuan dari sekolah untuk mendaftar.
“Tahap pertama SPMB 2026 dimulai sejak 2 hingga 4 Juni 2026 untuk jalur afirmasi dan jalur mutasi,” jelasnya.
Untuk jalur mutasi, kuota yang disediakan sebesar 5 persen. Sementara untuk jalur afirmasi, kuotanya sebesar 30 persen yang dikhususkan untuk penyandang disabilitas dan anak tidak mampu yang memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Baca Juga: Dikpora NTB Dorong Transformasi Kepala Sekolah, Atasi Kesenjangan Pendidikan dan SPMB
Sementara itu, Kepala SMAN 3 Selong Syawalul Fitri menambahkan, sejak beberapa tahun terakhir SMAN 3 Selong tidak pernah menjadi pilihan pertama bagi calon siswa. Hal ini karena SMAN 3 Selong diapit dua SMA yang dinilai menjadi sekolah favorit oleh masyarakat.
“Biasanya para siswa akan mendaftar di akhir-akhir. Kuota kita sembilan rombel, satu rombel itu 36 orang,” jelasnya.
Meski kerap menjadi pilihan terakhir, kuota setiap tahun selalu terpenuhi. Bahkan, jumlah siswa SMAN 3 Selong beberapa tahun terakhir diklaim meningkat. Tahun-tahun sebelumnya jumlah rombel hanya delapan, tahun ini bertambah menjadi sembilan.
Baca Juga: TKA Jadi Kunci Jalur Prestasi SPMB, Siswa SD-SMP Wajib Ikut
Secara prestasi akademik maupun nonakademik, SMAN 3 Selong diakui tidak jauh berbeda dengan SMAN lain. Bahkan, prestasi di bidang nonakademik SMAN 3 Selong sering unggul dibandingkan dengan yang lain.
“Di beberapa lomba nonakademik, kita sering unggul. Termasuk yang akademik,” tutupnya.
Editor : Akbar Sirinawa