Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Produksi Tahu Danger yang Terkenal di Lombok Timur, Berusaha Keras Pertahankan Kualitas di tengah Kenaikan Harga Bahan Baku

Supardi • Senin, 15 Juni 2026 | 12:55 WIB
PRODUKSI: Haerudin bersama pekerjanya sedang memproduksi tahu Dangger di rumah produksinya di Dusun Jontlak, Desa Dangger, Kecamatan Masbagik
PRODUKSI: Haerudin bersama pekerjanya sedang memproduksi tahu Dangger di rumah produksinya di Dusun Jontlak, Desa Dangger, Kecamatan Masbagik

Lombokpost-Tahu buatan masyarakat Desa Dangger cukup terkenal di pasar tradisional Lombok Timur (Lotim). Ukurannya yang lebih besar ditambah rasa yang enak, mmebuat tahu ini jadi favorit masyarakat. 

Aroma kedelai rebus dan uap panas menjadi bagian dari keseharian Haerudin di Dusun Jontlak, Desa Danger, Lombok Timur (Lotim). Dari tempat produksi sederhana itu, tahu buatannya mengalir ke pasar tradisional hingga dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Desa Dangger selama ini dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan tahu di Lotim. Tahu dari desa ini cukup dikenal masyarakat. Hampir semua pasar tradisional menjual tahu Danger.

Baca Juga: Ketahuan Sembunyikan Sabu Dalam Dubur, Pria Asal Danger Lotim Ditangkap di Pelabuhan Lembar

Haerudin termasuk pengusaha tahu Dangger yang masih baru. Namun, tahu buatannya cukup laris di pasaran karena memiliki rasa enak dan khas.

“Terjun di dunia usaha pembuat tahu baru dua tahun, bahkan kurang. Awalnya saya bisnis jual beras . Meski masih baru, tapi kualitas tahu saya tidak kalah dengan hasil buatan yang lain yang sudah lama terjun ,” terang Haerudin, Minggu (14/6).

Pada awal program MBG berjalan di Lotim, empat sampai lima dapur rutin membeli tahu miliknya. Namun kini hanya tersisa dua dapur yang rutin mengambil tahu.

Baca Juga: Mengenal Grup Kecimol Tunggal Mas di Desa Danger, Kecamatan Masbagik

“Biasanya mereka ambil dua kali seminggu,” jelasnya.

Dalam sehari, Haerudin bisa memproduksi sekitar 50 sampai 60 papan tahu. Ia membuat tahu ukuran kecil dan besar. Untuk ukuran kecil, satu papan berisi 120 biji tahu. Sementara untuk ukuran besar berisi 100 biji per papan. Meski berbeda ukuran, harga tahu tetap sama. Haerudin membanderolnya Rp 55 ribu per papan.

Hanya saja, saat ini, harga bahan baku pembuatan tahu melonjak. Kedelai kini mencapai Rp 11.300 per kilogram. Bahkan, harganya sempat menembus Rp 12.000 per kilogram.

“Bulan lalu harga kedelai masih di harga Rp 8 ribu-Rp 9 ribu per kilogram. Sementara air garam yang sebelumnya hanya Rp 40 ribu per jeriken ukuran 30 liter, sekarang naik menjadi Rp9 0 ribu,” jelasnya.

Baca Juga: Desa Danger Masbagik Tolak Warga Zonah Merah

Meski harga bahan baku naik, Haerudin belum mengubah harga per papan. Ia hanya mengurangi ketebalan tahu dari ukuran biasa. Kenaikan harga bahan baku itu terjadi sejak dua bulan lalu. Ia tidak mengetahui penyebab pasti kenaikan harga kedelai. Namun, ia memperkirakan kondisi itu berkaitan dengan situasi ekonomi saat ini.

Haerudin tetap menjaga kualitas dan rasa tahu. Untuk bahan baku, ia memilih kedelai berkualitas baik dan baru dipanen petani.

“Bahan baku saya beli di pengepul. Kualitas kedelai yang kita gunakan betul-betul harus diperhatikan agar rasanya tetap terjaga. Saya juga membuat tahu pakai metode uap,” katanya.

Baca Juga: Gubernur Miq Iqbal Resmikan Kompleks Pertokoan Masjid Jami’ Al-Akbar Masbagik, Serahkan Bantuan dan Apresiasi Posyandu

Dalam memproduksi tahu, Haerudin dibantu empat karyawan dari masyarakat sekitar. Ia mengaku permintaan tahu miliknya terus meningkat setiap hari. Karena itu, ia berencana menambah karyawan dan memperbesar gudang produksi. (*/r7)

 

Editor : Kimda Farida
#tahu #Masbagik #produksi #Lotim #Sembako