Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dari Program Inkubasi Bisnis Universitas Hamzanwadi, Sulap Sampah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi, hingga Belajar Pemasaran Secara Online da

Supardi • Selasa, 23 Juni 2026 | 16:40 WIB
JUAL PRODUK: Mahasiswa Universitas Hamzanwadi Pancor menawarkan kerajinan gantungan kunci yang dibuat dari tutup botol bekas kepada Sekda Lotim di acara car free day (CFD).
JUAL PRODUK: Mahasiswa Universitas Hamzanwadi Pancor menawarkan kerajinan gantungan kunci yang dibuat dari tutup botol bekas kepada Sekda Lotim di acara car free day (CFD).

LombokPost-Siapa sangka, tutup botol bekas bisa punya nasib baru di tangan mahasiswa. Dari benda yang kerap berakhir di tempat sampah, lahir gantungan kunci kecil yang menjadi wujudu kreativitas dan peluang usaha.

Ratusan stan UMKM pagi itu memenuhi areal Taman Rinjani Selong. Berbagai produk, mulai dari makanan, minuman, kerajinan tangan, hingga produk lain, berjejer rapi di trotoar taman.

Dari ratusan stan itu, puluhan di antaranya milik mahasiswa Universitas Hamzanwadi Pancor. Produk yang mereka tawarkan tidak kalah menarik dari produk UMKM lain. Salah satu yang cukup mencolok, kerajinan tangan dari tutup botol bekas yang disulap menjadi gantungan kunci.

Baca Juga: Unram-Universitas Hamzanwadi Bersinergi, Percepat Pemenuhan Dokter di NTB

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Hamzanwadi (Unhaz) Pancor Adelia Nurul Iwani menjelaskan, gantungan kunci berbentuk boneka itu dibuat dari tutup botol bekas. Proses pembuatannya memanfaatkan alat sederhana, seperti setrika.

“Setelah tutup botol terkumpul, kita pisahkan sesuai warna. Kemudian tutup botol itu kita lapis menggunakan baking paper, kemudian kita setrika. Setelah tutup botolnya meleleh, baru kita cetak menggunakan alat yang sudah kita siapkan,” jelasnya kemarin.

Setelah selesai dicetak, produk dirapikan. Mahasiswa menambahkan manik-manik dan kreasi lain agar tampil lebih bagus dan menarik.

Baca Juga: Dari Kampus ke Laut, Aksi Nyata Mahasiswa Universitas Hamzanwadi

Pembuatan gantungan kunci itu sejauh ini hanya dapat memanfaatkan tutup botol. Belum bisa menggunakan plastik jenis lain. Jenis produk yang dibuat juga masih terbatas karena peralatan belum memadai.

“Bisa saja kita kembangkan kalau punya alat yang lebih besar lagi. Makanya kita butuh investor untuk men-support kami membuat produk yang lebih banyak,” jelasnya.

Selain menjadi bagian dari mata kuliah, pembuatan gantungan kunci dari sampah itu juga diharapkan dapat mengurangi sampah terbuang. Produk itu juga berpotensi menjadi salah satu sumber penghasilan.

Baca Juga: HMPS PSP Universitas Hamzanwadi Gelar Konser Amal, Galang Dana untuk Korban Bencana Banjir Sumatra

Ide pembuatan gantungan kunci itu terinspirasi dari konten di media sosial. Saat ini, Adelia baru dapat menghasilkan 100 gantungan kunci. Satu gantungan kunci membutuhkan tiga tutup botol.

Sementara itu, Kepala Pusat Inovasi dan Inkubasi Bisnis (PIIB) Universitas Hamzanwadi Fahrurrozi menyampaikan, kegiatan itu merupakan pemasaran offline dari program Kewirausahaan berbasis proyek. Program ini menjadi mata kuliah wajib bagi semua mahasiswa.

“Dulu program ini lebih banyak teorinya. Setelah dilakukan evaluasi dan melalui PIIB, program ini sekarang dikelola berbasis proyek, sehingga melalui program ini mahasiswa akan berpikir bagaimana membuat sebuah proyek bisnis dan dipasarkan,” jelasnya.

Baca Juga: Alumni Universitas Hamzanwadi Tersebar di Berbagai Wilayah, Lulusan Melek Digital, Menguasai Bahasa Asing, dan Berjiwa Entrepreneurship

Untuk menunjang kualitas produk, pihaknya menghadirkan pelaku usaha praktisi dari berbagai kota di Indonesia, seperti Yogyakarta dan Surabaya. Mahasiswa juga mengikuti sesi mentoring intensif untuk mempertajam konsep bisnis.

Pada semester ini, sebanyak 650 mahasiswa terlibat dalam kegiatan itu dari tiga fakultas. Yakni Fakultas Teknik, Fakultas Bahasa, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (FISE). Mereka dibagi ke dalam dua gelombang.

“Pola ini sama dengan semester kemarin yang diikuti Fakultas MIPA, Fakultas Ilmu Pendidikan, dan Fakultas Kesehatan,” imbuhnya.

Baca Juga: Tim PKM PMM Universitas Hamzanwadi Kembangkan Pariwisata Sejarah dan Budaya serta UMKM Berbasis Sistem Informasi InformaCore di Desa Ketangga

Melalui program bootcamp di awal semester, mahasiswa bebas memilih arah bisnis berdasarkan lima business stream utama. Pilihannya meliputi ekonomi kreatif, usaha bidang pendidikan, agriculture (pertanian), teknologi industri, dan bidang jasa lainnya.

Mahasiswa diberi waktu dua minggu untuk membentuk kelompok secara mandiri berdasarkan kesamaan minat. Setelah kelompok terbentuk, mahasiswa wajib melakukan survei pasar, memetakan kompetitor, hingga memproduksi produk siap jual.

“Bagi kelompok yang mengambil bisnis pariwisata atau tour guide, mereka melakukan pemasaran offline ke pusat-pusat wisata. Sementara yang bergerak di bisnis pendidikan, mereka menyasar sekolah-sekolah atau momen wisuda,” ujarnya. (*/r7)

Editor : Prihadi Zoldic
#UMKM #sampah #produk #Lotim #Hamzanwadi