LombokPost-Alunan Budaya Pringgasela merupakan satu-satunya event Budaya di Lombok Timur (Lotim) yang berhasil mewakili Lotim di tingkat Nasional dalam Karisma Event Nusantara (KEN). Setiap tahun penyelenggaraan event ini mengangkat tema berbeda-beda yang memukau masyarakat dan wisatawan.
Panggung raksasa berdiri kokoh di samping simpang empat Desa Pringgasela. Di sekitarnya, puluhan lapak sederhana berjejer rapi. Para pedagang menjajakan aneka makanan tradisional, makanan kekinian, dan produk UMKM lainnya.
Panggung itu akan menjadi pusat kegiatan Festival Alunan Budaya Pringgasela yang kini genap satu dekade diselenggarakan. Tahun ini, panitia mengangkat tema Srimananti.
Baca Juga: Alunan Budaya Pringgasela Dongkrak Ekonomi UMKM
Tema itu bukan sekadar nama. Srimananti menjadi simbol pengharapan, pengakuan atas peran perempuan, serta penegasan jati diri tenun khas Pringgasela.
Ketua Lembaga Majelis Seni dan Budaya Pringgasela Fery Irawan menyampaikan, puncak perayaan akan dimeriahkan dengan pertunjukan kolosal tentang perempuan dan tenun.
“Pada puncak acara juga akan dimeriahkan oleh Karnaval Tenun. Karnaval ini merupakan satu-satunya di Indonesia yang menggunakan kain tenun sebagai busana utama,” terang Fery.
Baca Juga: Festival Alunan Budaya Pringgasela: Harmoni Warisan, Tenun, dan Semangat Generasi Baru
Fery menjelaskan, Srimananti merupakan salah satu corak tenun paling ikonik di Pringgasela. Motif kain itu sarat makna. Srimananti melambangkan asa, doa, dan sosok perempuan yang secara turun-temurun memegang peranan penting dalam menenun.
Corak Srimananti juga memiliki kekhasan dan ciri tersendiri. Sekilas, orang akan mengenal kain itu sebagai tenun khas Pringgasela, meski motifnya memiliki kemiripan dengan kain tenun dari daerah lain di Lombok.
“Srimananti juga merefleksikan karakter dan menjadi motif kebanggaan masyarakat Pringgasela,” katanya.
Bagi masyarakat Pringgasela, perempuan dan kain tenun ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Karena itu, festival tahun ini tidak hanya mengangkat perempuan sebagai tema besar. Panitia juga melibatkan perempuan dalam struktur kepanitiaan.
Untuk kali pertama dalam sejarah Festival Alunan Budaya Pringgasela, posisi ketua panitia dipercayakan kepada perempuan.
Ketua Panitia Alunan Budaya Pringgasela Vidya Akmlaunnisa menambahkan, pemilihan tema Srimananti bertujuan menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Harapannya, tradisi leluhur berupa tenun tetap hidup dan bertahan di tengah masyarakat.
“Kami ingin anak muda di Pringgasela mengenal identitas mereka, sehingga mereka bisa melanjutkan warisan budaya kain tenun Pringgasela ini,” katanya.
Baca Juga: Masuk KEN 2025, Panitia Berharap Pemprov NTB Dukung Penuh Event Alunan Budaya Desa 9
Pada festival tahun ini, panitia akan menghadirkan sembilan tahapan dalam proses menenun. Para ibu penenun akan memperagakannya secara langsung sebagai simbol. Konsep itu berbeda dengan tahun sebelumnya yang menampilkan seribu penenun dalam satu atraksi.
Pringgasela memiliki ribuan perajin tenun yang menjadi garda terdepan pelestarian tradisi. Sembilan proses menenun yang akan ditampilkan menggambarkan perjalanan panjang pembuatan kain.
Proses itu dimulai dari pengolahan benang dan pemberian warna menggunakan pewarna alami. Setelah itu, penenun mengolah benang hingga menjadi kain.
Baca Juga: Misi Bawa Tenun Pringgasela Mendunia, Alunan Budaya ke 8 Siap Digelar
“Untuk pemberian warna itu menggunakan bahan alami mulai dari tanah, kayu, daun dan bahan alami lainnya. Inilah yang menjadi pembeda tenun Pringgasela dengan tenun daerah lain,” tutupnya. (*/r7)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post