LombokPost-Kondisi hutan di Desa Sambelia dan Sugian, Kecamatan Sambelia, kian memprihatinkan.
Dari sekitar 420 hektare Hutan Kemasyarakatan (HKM), lebih dari 200 hektare rusak akibat alih fungsi lahan.
Kerusakan hutan itu menyebabkan masyarakat kehilangan sumber mata air.
“Dari temuan kami bersama kelompok perempuan pemantau hutan Desa Sambelia dan Desa Sugian, saat kita turun ke lapangan, kondisi hutan kita sudah tidak ada lagi pohon, sudah tidak ada pohon-pohon besar yang berdiri,” terang anggota Gema Alam sekaligus Koordinator Program Wise Watch Diar Ruly Juniari seusai kegiatan Multi Stakeholder Forum (MSF), Kamis (24/7).
Diar mengatakan, kondisi hutan Sambelia dan Sugian masih sangat rimbun sekitar 2008 hingga 2010. Banyak pohon besar tumbuh di kawasan itu. Jenisnya didominasi sonokeling, sengon, dan jati.
Namun, ratusan hektare hutan Sambelia kini berubah menjadi kawasan gundul. Hanya tersisa beberapa pohon jambu mete yang dimanfaatkan masyarakat untuk diolah menjadi makanan.
“Nah akibat gundulnya hutan ini, sekarang masyarakat Sugian betul-betul merasakan dampaknya terutama terhadap sumber mata air yang banyak mengering,” katanya.
Saat ini, hanya tersisa satu sumber mata air yang masih mengalir.
Namun, sumber mata air itu diperkirakan mengering pada Agustus.
Masyarakat juga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Padahal, sebelumnya wilayah Sugian tidak pernah mengalami kekeringan setiap musim.
Baca Juga: Riset Gaharu Unram 30 Tahun, Dari Senaru Lahir Model Konservasi Hutan Berkelas Dunia
Diar berharap pemerintah memberikan edukasi kepada masyarakat untuk mengembalikan fungsi lahan.
Pemerintah juga diharapkan membagikan bibit pohon berkualitas untuk reboisasi. Ia meminta pemerintah tidak lagi memberikan bibit sengon yang dinilai tidak menguntungkan masyarakat.
“Dulu di hutan dipenuhi pohon sengon. Karena rencananya mau dijadikan sebagai bahan membuat kertas. Tapi nyatanya tidak ada. Ini yang membuat masyarakat untuk enggan lagi menanam pohon dan memilih menanam jagung,” katanya.
Ia juga meminta pemerintah melakukan pendampingan secara intensif. Masyarakat tidak cukup hanya diberikan bibit untuk ditanam, kemudian ditinggalkan.
Sementara itu, Manajer Women Research Institute (WRI) Benita Nastami mengatakan, kegiatan Women Initiative for Sustainable Empowerment Through Forest Watch (Wise Watch) bertujuan mendorong perempuan lokal memantau hutan. Mereka juga didorong mengelola data berdasarkan hasil pemantauan.
“Kami bekerja sama dengan Gema Alam melakukan pendampingan terhadap dua kelompok perempuan pemantauan hutan di Desa Sugian dan Sambelia agar mereka memiliki kapasitas untuk melakukan pemantauan hutan dan lahan di sekitar mereka dengan memanfaatkan aplikasi,” katanya.
Aplikasi itu membantu kelompok perempuan mencatat temuan hasil pemantauan hutan dan lahan. Mereka kemudian mendiskusikan dampak serta langkah yang ingin dilakukan untuk menyikapi kondisi hutan.
Baca Juga: Mandalika Masuk Zona Merah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan
“Makanya melalui kegiatan forum Multi Stakeholder ini kami ingin mempertemukan berbagai pihak yang relevan yang terkait dengan permasalahan yang sudah diidentifikasi, salah satunya masalah hutan yang dialihfungsikan ini. Dengan harapan ada jalan keluarnya,” tutupnya.
Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post