Berkunjung Ke TWA Keramat Suci Ekowisata Mangrove Sugian, Rumah Bagi Burung Langka dan Spesies Mangrove Terlengkap di Asia

Supardi • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 09:32 WIB
EKOWISATA MANGROVE: Sejumlah pengujung sedang menikmati suasana di Ekowisata Mangrove Sugian
EKOWISATA MANGROVE: Sejumlah pengujung sedang menikmati suasana di Ekowisata Mangrove Sugian

LonbokPost-Taman Wisata Alam (TWA) Keramat Suci Sugian kini dikenal dengan nama Ekowisata Mangrove Sugian. Kawasan ini bukan sekadar tempat wisata. Keberadaannya menjadi bagian dari konservasi alam dan pemberdayaan masyarakat. Kawasan ini juga dikembangkan sebagai model pariwisata berkelanjutan.

Hamparan mangrove tumbuh subur di pinggir laut. Rimbunnya membentuk hutan teduh di pesisir. Jalan setapak dari papan kayu membelah kawasan. Hawa sejuk langsung terasa saat memasukinya. Terik pantai saat itu pun tidak begitu terasa.

Pemandangan itu berada di pesisir paling timur Pulau Lombok. Tepatnya di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Kawasan itu bernama Taman Wisata Alam (TWA) Keramat Suci Ekowisata Mangrove Sugian.

Baca Juga: Ketika Mangrove Sebagai Benteng Pesisir Menjadi Arena Perebutan Kepentingan

Destinasi ini baru diresmikan pada April 2026. Pengembangannya tidak lepas dari Program Kampung Iklim (Proklim) yang berjalan sejak 2024.

Humas Proklim Kokok Pedek Timur Bagus Aditya Kusuma mengatakan, Proklim Kokok Pedek Timur baru-baru ini meraih predikat Lestari. Predikat itu menjadi penghargaan tertinggi dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Meraih predikat Lestari bukan perkara mudah. Peralihan dari status Proklim Utama menuju Lestari membutuhkan kerja keras. Sejumlah persyaratan ketat juga harus dipenuhi.

Baca Juga: Hari Mangrove Sedunia 26 Juli, PT Pelindo Cabang Lembar Ajak Perkuat Pelestarian Mangrove dan Budaya Maritim

“Salah satu syarat untuk naik kelas adalah harus membina minimal 10 dusun agar ikut menjadi program Proklim. Pembinaan tidak hanya dilakukan di satu desa, tetapi juga dilakukan hingga lintas kecamatan,” terang Bagus kepada Lombok Post, Senin (27/7).

Kawasan ini memiliki 17 spesies mangrove. Keragaman itu menjadikannya salah satu kawasan mangrove terlengkap di Asia. Konservasi tidak hanya berlangsung di TWA Keramat Suci. Kegiatan serupa juga dilakukan di Gili Sulat dan Gili Lawang.

Rimbunnya mangrove juga menjadi habitat berbagai burung langka. Kondisi itu menarik akademisi dari dalam dan luar negeri untuk melakukan penelitian. Beberapa peneliti berasal dari Jepang dan Australia.

Baca Juga: ITDC Tanam 4.500 Mangrove di KEK Mandalika

“Kami tidak menjadikan ini sebagai wisata komersial. Karena kami mengusung konsep ekowisata dan edu-wisata (wisata edukasi). Di mana pengunjung datang tidak hanya untuk berekreasi tapi juga untuk belajar tentang mangrove,” beber Bagus.

Perkembangan hutan mangrove juga menunjukkan tren positif. Bagus merujuk data citra satelit dari tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM). Luas hutan mangrove di kawasan ini meningkat rata-rata 1 persen setiap tahun sejak 2019.

Namun, peningkatan tutupan hutan tidak membuat pengelola membuka kunjungan tanpa batas. Jumlah wisatawan tetap dibatasi karena kawasan ini merupakan daerah konservasi. Pembatasan juga bertujuan menjaga alam dan memastikan sampah tertangani dengan baik.

Baca Juga: Rayakan Hari Anak Nasional, Pertamina Ajak Anak Pesisir Kenali Budaya hingga Tanam 1.000 Mangrove

“Kami tidak ingin alam cepat punah demi keuntungan sesaat. Kami juga menargetkan pengembangan program karbon penyerapan (blue carbon),” katanya.

Potensi penyerapan karbon di kawasan ini dinilai sangat besar. Luas mangrove di daratan mencapai lebih dari 10 hektare. Sementara kawasan mangrove di gili sekitar 600 hektare. Potensi itu sejalan dengan prinsip pariwisata berkelanjutan.

Konservasi alam berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Pemerintah Desa Sugian ikut mendukung pengembangan ekowisata mangrove. Pemdes juga telah menjalin kerja sama dengan pengelola, termasuk menerapkan skema pembagian hasil.

“Melalui skema ini, masyarakat secara umum diuntungkan, sementara desa juga mendapatkan tambahan Pendapatan Asli Desa (PAD),” terang Sekretaris Desa Sugian M Ali Fikri Mahfuz.

Baca Juga: Mangrove, Membangun Ketahanan Pangan untuk Ketahanan Iklim

TWA Keramat Suci Sugian tidak hanya menawarkan wisata mangrove. Kawasan ini juga memiliki wisata religi berupa makam keramat. Lanskap alam di sekitarnya turut menjadi daya tarik bagi pengunjung.

Pemdes Sugian tahun ini akan menambah sejumlah fasilitas penunjang wisata. Pembangunan mencakup perbaikan MCK dan pemenuhan air bersih. Pemdes juga akan membangun kamar bilas dan kamar kecil tambahan.

“Wisata mangrove kita ini berbeda dengan wisata mangrove yang lain. Karena wisata mangrove kita memiliki pemandangannya yang istimewa. Dari sisi timur, pengunjung dapat menyaksikan matahari terbit. Sementara dari sisi barat, mereka bisa menikmati matahari terbenam di Gunung Rinjani, sebuah panorama yang sulit ditemukan di tempat lain,” katanya.

Baca Juga: Mangrove, Membangun Ketahanan Pangan untuk Ketahanan Iklim

Perkembangan ekowisata ini terus menunjukkan tren positif. Program tracking mangrove kini menjadi atraksi baru di kawasan itu.

Pada hari libur dan akhir pekan, kunjungan mulai meningkat. Bahkan, pada malam Minggu, jumlah pengunjung mencapai 100–150 orang per malam.

Keramaian tidak membuat pengelola mengabaikan aturan adat atau awik-awik. Kegiatan musik langsung dan unsur komersial lainnya tetap dibatasi.

“Kami sengaja tidak membuat kegiatan yang besar secara komersial, karena tujuan utama kami adalah konservasi dan edukasi,” jelasnya. (*/r7)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
Konservasi TWK alam carbon Mangrove