LombokPost-Dinas Ketahanan Pangan Lombok Timur (Lotim) mengingatkan petani mengantisipasi gangguan produksi pangan saat puncak musim kemarau. Potensi kekurangan air paling tinggi berada di wilayah selatan Lotim karena didominasi lahan tadah hujan.
“Kondisi musim kemarau sangat berpotensi mengurangi ketersediaan air dan memengaruhi produksi pangan, khususnya di wilayah selatan Lotim karena lahan di sana didominasi lahan tadah hujan,” terang Kepala Dinas Ketahanan Pangan Lotim Selamet Alimin, Rabu (29/7).
Dia mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air. Petani diminta memanfaatkan sumber air yang masih tersedia dan menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim kemarau. Langkah itu untuk mengantisipasi penurunan produksi pangan dan menjaga keberlanjutan hasil pertanian.
Baca Juga: Koperasi NTB Gandeng Bulog Perkuat Ritel Pangan
Selain menghemat air, dia meminta petani memilih varietas tanaman yang sesuai dengan kondisi musim. Petani juga diminta menerapkan teknologi pertanian yang mampu menghemat penggunaan air.
“Kemudian lakukan pemupukan yang berimbang, pantau dan cari informasi tentang perubahan iklim dari BMKG,” katanya.
Kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih lama. Kondisi itu dikhawatirkan berdampak terhadap produktivitas tanaman pangan. Serangan hama dan penyakit tanaman, seperti wereng, ulat, kutu, maupun hama lainnya, juga berpotensi meningkat.
Sebagai salah satu lumbung pangan nasional di kawasan timur Indonesia, dia berharap Lotim mampu menjaga stabilitas produksi pangan di tengah tantangan perubahan iklim.
Baca Juga: Mangrove, Membangun Ketahanan Pangan untuk Ketahanan Iklim
“Antisipasi dampak dari kemarau ini perlu terus ditingkatkan mengingat ancaman utamanya adalah kekeringan yang dapat menurunkan (produksi) pangan serta meningkatkan kerawanan pangan,” tutupnya.
Sebelumnya, petani di Kecamatan Jerowaru Hamdi Ibnul Ayep mengatakan, kekeringan di wilayah selatan tahun ini diperkirakan tidak separah tahun sebelumnya. Sebagian besar wilayah Jerowaru sudah memiliki sumber air dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Masyarakat juga mulai jarang membeli air tangki.
“Kalau beli air untuk kebutuhan sehari-hari, sudah jarang. Kalaupun ada, tidak banyak karena SPAM Pantai Selatan sudah masuk di sebagian daerah Jerowaru. Yang belum Desa Sekaroh saja. Tapi kalau untuk kebutuhan pertanian, kita masih beli air tangki. Karena memang di selatan saluran irigasi masih kurang,” tutupnya. (par/r7)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post