LombokPost-Festival Roah Pesisi Pesona Sambelia bukan sekadar ritual dua tahunan. Tradisi ini menjadi ungkapan syukur masyarakat pesisir atas limpahan rezeki sekaligus doa keselamatan bagi nelayan saat melaut.
ALUNAN musik gendang beleq menggema di tengah perairan Sambelia siang itu. Puluhan kapal berbagai ukuran beriringan mengikuti satu kapal yang melaju di barisan depan.
Setibanya di tengah laut, kapal-kapal itu bergerak memutari perahu yang ditumpangi tokoh adat dan sejumlah pejabat Lombok Timur. Tiga putaran diselesaikan sebelum deru mesin perlahan mereda.
Suasana seketika hening. Tokoh adat mengeluarkan keranjang berisi kepala sapi yang dibungkus kain putih. Setelah doa dipanjatkan, kepala sapi dilepas perlahan ke laut.
Masyarakat menyambut pelarungan itu dengan riuh dan penuh harap. Mereka berharap hasil tangkapan ikan semakin melimpah. Pelarungan kepala sapi menjadi puncak Festival Roah Pesisi Pesona Sambelia 2026.
Ketua Panitia Roah Pesisi Pesona Sambelia 2026 Lalu Mustiadi mengatakan, festival itu merupakan ritual selamatan laut. Tahun ini menjadi pelaksanaan ke-10 yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
“Itu menjadi kesepakatan masyarakat Kecamatan Sambelia, khususnya untuk nelayan, pelaksanaan ritual ini dilaksanakan satu kali dalam dua tahun yang dilaksanakan di awal bulan Agustus,” terang Mustiadi, Minggu (2/8).
Roah Pesisi menjadi simbol rasa syukur masyarakat Sambelia atas rezeki yang diberikan Allah SWT. Salah satunya berupa hasil tangkapan ikan yang melimpah.
Melalui ritual itu, masyarakat juga memohon keselamatan bagi para nelayan. Mereka berharap dijauhkan dari bencana saat mencari ikan di laut.
Pelaksanaan Roah Pesisi tahun ini sedikit berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kepala yang dilarungkan menggunakan kepala sapi, bukan kepala kerbau seperti pada ritual sebelumnya.
Baca Juga: Peringati Hari Bumi 2026, PLN Tanam 4.000 Bibit Mangrove di Desa Sugian Lombok Timur
“Biasanya kami pakai kepala kerbau, tapi tokoh adat kami itu didatangi melalui mimpi, jadi mintanya itu kepala sapi bukan kepala kerbau, makanya kita pakai sapi,” katanya.
Titik pelarungan juga tidak ditentukan sembarangan. Lokasinya mengikuti arahan tokoh adat Sambelia dan dapat berbeda pada setiap pelaksanaan.
Perbedaan lainnya terlihat dari jumlah kapal yang mengiringi prosesi. Tahun ini, sekitar 50 kapal mengikuti pelarungan. Jumlah itu jauh lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 200 kapal.
Baca Juga: Ekowisata Mangrove Sugian Jadi Andalan Baru Desa Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Kapal yang mengikuti prosesi biasanya dihias dengan bendera, umbul-umbul, dan berbagai aksesori. Namun, Namun, kapal peserta tahun ini tidak dihias seperti pelaksanaan sebelumnya.
“Karena kondisi ekonomi sekarang ini, kayaknya masyarakat berhemat sehingga perahunya tidak dihias,” sebutnya.
Setelah ritual berlangsung, masyarakat tidak diperbolehkan beraktivitas di laut selama tiga hari. Larangan itu mencakup kegiatan memancing maupun menjaring ikan.
Baca Juga: Aksi Hijau Polairud NTB: 200 Mangrove Disemai, Selamatkan Pantai Sugian Lombok Timur dari Abrasi
Selama masa itu, laut dibiarkan tenang dan dimanfaatkan untuk konservasi. Masyarakat baru kembali menjalankan aktivitas setelah masa larangan berakhir.
Festival juga dirangkaikan dengan berbagai kegiatan. Di antaranya bazar UMKM, santunan anak yatim, jalan sehat, serta doa dan zikir bersama.
Kepala Dinas Pariwisata Lotim Mirayang berharap Festival Roah Pesisi dapat menarik wisatawan berkunjung ke Pantai Desa Sugian. Harapan itu menyasar wisatawan lokal maupun mancanegara.
Baca Juga: Hutan Sambelia Beralih Fungsi, Mata Air Mengering
Kunjungan wisatawan diharapkan memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat sekitar. Di sisi lain, ritual Roah Pesisi juga diharapkan tetap lestari sebagai tradisi masyarakat pesisir Sambelia.
“Membuang kepala sapi itu adalah simbol dari rasa syukur masyarakat atas nikmat Tuhan yang telah diberikan selama ini kepada nelayan. Mudahan acara ini tetap dilestarikan dan menarik wisatawan,” katanya. (*/r7)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post