LombokPost-Puluhan nelayan di Labuhan Lombok, Kecamatan Pringgabaya, mengikuti Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) yang digelar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kegiatan itu meningkatkan kemampuan nelayan memahami informasi cuaca agar tetap selamat saat melaut sekaligus meningkatkan hasil tangkapan.
“Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi maritim yang sangat besar, sehingga pemanfaatan teknologi informasi cuaca sangat penting bagi masyarakat pesisir,” terang Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Meteorologi Maritim BMKG Dr Agie Wandala Putera, Minggu (2/8).
Menurut dia, BMKG terus memperkuat layanan informasi cuaca maritim melalui prakiraan cuaca dan peringatan dini. Layanan itu juga didukung teknologi terbaru yang mampu memberikan rekomendasi rute pelayaran lebih aman serta lokasi potensial penangkapan ikan.
Melalui SLCN, nelayan diharapkan semakin cerdas memanfaatkan teknologi untuk mendukung aktivitas melaut. Terlebih, teknologi di sektor kelautan mengalami perubahan signifikan dibandingkan lima hingga sepuluh tahun lalu.
“Karena itulah BMKG hadir untuk memberikan edukasi agar masyarakat pesisir mampu memanfaatkan informasi cuaca secara optimal. Apalagi laut Lotim ini memiliki potensi yang besar,” katanya.
Lotim tidak hanya memiliki potensi besar di sektor perikanan. Daerah ini juga memiliki potensi pariwisata bahari yang menjadi tujuan wisata nasional hingga internasional.
Informasi mengenai kondisi cuaca dan perairan dapat membantu penjadwalan aktivitas wisata. Nelayan cukup menggunakan telepon genggam untuk mengetahui prakiraan tinggi gelombang dan arah arus laut.
Nelayan juga dapat memanfaatkan peta potensi daerah penangkapan ikan yang disediakan BMKG. “Melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan, kami menyampaikan informasi dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami,” jelasnya.
Sementara itu, nelayan Labuhan Lombok Haris mengatakan, kegiatan itu membantu nelayan memahami karakteristik cuaca laut. Selama ini, kondisi cuaca menjadi salah satu kendala saat melaut.
Baca Juga: Kemarau Diprediksi Hingga Oktober 2026, BMKG Imbau Masyarakat untuk Hemat Air
“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami. Sehingga kami bisa mengetahui cara membaca informasi cuaca dan lokasi penangkapan ikan,” jelasnya.
Menurut Haris, nelayan kerap khawatir menghadapi cuaca yang tidak menentu. Tinggi gelombang dapat mencapai sekitar 2,5 meter hingga 3 meter sehingga banyak nelayan tidak berani melaut.
Pelatihan itu juga dinilai dapat meminimalkan kerugian nelayan. Terlebih, biaya bahan bakar terus meningkat, sedangkan hasil tangkapan tidak sebanding saat cuaca memburuk.
Melalui SLCN, nelayan diharapkan semakin memahami kondisi laut. Mereka juga diharapkan mampu menentukan waktu dan lokasi penangkapan ikan yang tepat.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post