LombokPost-Pemuda di lingkar selatan Rinjani mulai berbenah untuk mengambil bagian dalam aktivitas pendakian. Setelah lama menjadi penonton lalu lalang pendaki di jalur Timbanuh, mereka kini menyiapkan diri menjadi porter dan pemandu profesional.
PULUHAN alat evakuasi dikeluarkan dari tas penyimpanan. Helm, tali, harness, karabiner, tandu papan, dan berbagai peralatan penyelamatan lainnya disiapkan satu per satu.
Sejumlah anggota tim SAR lalu mengatur posisi seorang korban di atas tandu. Setelah seluruh peralatan siap, tandu berisi korban itu diangkat sejumlah pemuda bersama tim SAR menuju tempat yang lebih aman.
Baca Juga: Pendaki Asal Narmada Terjatuh di Jalur Selatan Rinjani
Namun, orang di atas tandu itu bukan korban kecelakaan pendakian. Evakuasi hanya berupa simulasi dalam pelatihan penyelamatan bagi calon porter dan pemandu di lingkar selatan Rinjani.
Pelatihan diberikan tim SAR Lombok Timur (Lotim) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lotim. Para peserta dibekali kemampuan dasar untuk menghadapi kecelakaan saat mendampingi wisatawan melakukan pendakian.
Ketua Pemuda Rinjani Selatan Amrul Arahap mengatakan, kegiatan itu merupakan pelatihan dasar pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Pesertanya merupakan calon porter dan pemandu dari kawasan lingkar selatan Rinjani.
Baca Juga: Siapkan Aturan Adat bagi Pendaki Gunung Rinjani
“Yang ikut pelatihan ini sebanyak 12 orang pemuda dari Desa Timbanuh dan Desa Pengadangan. Pematerinya dari tim SAR dan BPBD Lotim,” terang Amrul saat ditemui di sela-sela pelatihan di Timbanuh, Senin (3/8).
Para peserta mempelajari penyelamatan, penanganan korban, serta penggunaan peralatan evakuasi. Pengetahuan itu dibutuhkan apabila wisatawan mengalami kecelakaan saat mendaki melalui jalur selatan.
Pelatihan menjadi bagian dari persiapan membentuk Tracking Organization (TO) khusus jalur Selatan, yang melibatkan empat pemuda dari Desa Pengadangan, Pengadangan Barat, Timbanuh, dan Jurit Baru. TO diharapkan menjadi wadah bagi masyarakat meningkatkan kesejahteraan melalui sektor pariwisata.
Baca Juga: Tragedi di Jalur Torean Rinjani, Pendaki Ritual 17 Tahun Tewas Usai Terjatuh ke Jurang 100 Meter
“Sebelum kita launching TO pendakian bersama dengan aturan adat atau awik-awik dan Sembek Burak, kami fokus untuk menyiapkan SDM-nya dulu, supaya mereka betul-betul profesional nantinya,” katanya.
Persiapan tidak hanya dilakukan melalui pelatihan penyelamatan. Para pemuda dari empat desa sebelumnya juga mendapat pelatihan memasak, memperlakukan tamu, hingga bahasa Inggris.
Berbagai keterampilan itu disiapkan agar wisatawan merasa aman dan nyaman selama berkunjung. Para porter dan pemandu juga diharapkan mampu memberikan pelayanan profesional tanpa meninggalkan budaya setempat.
Baca Juga: Geopark Rinjani Jadi Laboratorium Hidup, SEAMEO Biotrop Luncurkan GEMS untuk Sekolah Asia Tenggara
Pemberdayaan turut menyasar para perempuan penenun di desa penyangga jalur selatan. Mereka diberikan pelatihan produksi dan pemasaran kain tenun kepada wisatawan sebelum melakukan pendakian.
“Selama ini pemuda dan masyarakat yang ada di lingkar selatan hanya jadi penonton dari aktivitas pendakian. Padahal, pemuda-pemuda yang ada di empat desa ini langsung melihat kegagahan dan keagungan Rinjani dari rumah mereka,” katanya.
Amrul menilai jalur selatan memiliki potensi besar. Jalur itu masih alami, memiliki hutan lebat, serta trek yang tidak terlalu ekstrem dan belum terlalu ramai.
Kondisi itu membuat jalur selatan diperkirakan semakin ramai setiap tahun. Jalur tersebut juga diwacanakan menjadi jalur bagi pendaki mancanegara.
“Apalagi nanti kita dukung dengan atraksi budaya yang ada di empat desa ini. Sebelum mendaki, kita akan bawa wisatawan ini keliling ke empat desa untuk melihat kearifan lokal yang ada,” katanya.
Para pemuda juga merancang paket tiga hari menjadi orang Sasak bagi wisatawan mancanegara. Saat memasuki empat desa, wisatawan akan mengenakan pakaian seperti masyarakat Sasak.
Melalui paket itu, wisatawan tidak hanya datang untuk mendaki. Mereka juga akan diperkenalkan dengan kehidupan masyarakat di desa penyangga. (*/r7)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post