LombokPost-Fasilitas penunjang pendidikan di SMPN 2 Selong sangat memprihatinkan. Kondisi itu terutama terlihat pada ketersediaan bangku, meja, dan kamar mandi siswa.
Ratusan siswa terpaksa menggunakan toilet Masjid Raya Agung Al-Mujahidin.
“Kami tidak punya toilet yang layak. Setiap hari anak-anak terpaksa ke masjid raya,” terang Kepala SMPN 2 Selong Multazam Suwardi kepada Lombok Post, Rabu (5/8).
Dari 14 kamar mandi yang dimiliki sekolah, hanya lima yang masih berfungsi. Sisanya terbengkalai dengan kondisi berbeda. Ada yang tidak memiliki pintu, keramiknya retak, tidak memiliki akses air, dan tidak dilengkapi kloset.
Kondisi ini membuat guru dan siswa kewalahan, terutama saat waktu salat zuhur. Siswa dan guru harus menuju Masjid Raya Selong. Terlebih, akses air bersih di sekolah juga kurang lancar. Sumur sekolah tidak mampu memenuhi kebutuhan 450 siswa.
“Satu-satunya harapan kami saat ini adalah penambahan sumur bor agar sekolah memiliki sumber air yang memadai. Airnya tidak lancar, keran airnya tidak bisa dipakai secara bersamaan,” tambahnya.
Selain kamar mandi dan air bersih, puluhan ruang kelas di SMPN 2 Selong juga memprihatinkan. Plafon ruangan sudah lapuk dan berlubang di sejumlah bagian. Pintu dan jendela rusak parah. Bahkan, beberapa ruang kelas tidak memiliki meja dan kursi.
Baca Juga: Tingkatkan Fasilitas Pendidikan, 50 Sekolah di Kota Mataram Diusulkan Direhabilitasi Tahun 2026
“Yang tidak punya bangku dan meja hanya satu kelas saja, karena meja dan kursinya sudah rusak,” ungkapnya.
Ia mengakui pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi minimnya fasilitas. Salah satunya dengan menganggarkan pembelian meja dan kursi melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sekolah juga menggunakan dana di luar BOS.
Namun, dana BOS tidak mencukupi. Sekolah harus menganggarkan pembayaran honor 14 guru PPPK paro waktu yang mengajar di SMPN 2 Selong.
Baca Juga: SMPN 17 Mataram Minta Penundaan Uji Coba FDS, Masih Pembenahan Fasilitas Sekolah
“Untuk pengadaan meja dan kursi ini kami harus berutang, karena pembayarannya kami cicil. Karena kami harus memilih antara membayar guru atau membeli meja kursi,” jelasnya.
Pihak sekolah sebelumnya telah mengajukan dana revitalisasi. Sekolah juga sudah disurvei. Namun, hingga kini bantuan itu belum terealisasi.
Ia berharap Pemkab Lotim melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim memberikan perhatian serius. Dukungan itu dibutuhkan agar siswa dapat belajar dengan aman dan nyaman. (par/r7)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post