BBM Naik, Biaya Operasional Angkutan Rinjani Membengkak

Supardi • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 08:50 WIB
SOPIR LINGKAR RINJANI: Sejumlah mobil pikap saat menunggu pendaki turun di Pos pendakian Via Kandang sapi Desa Sajang, Kecamatan Sembalun.
SOPIR LINGKAR RINJANI: Sejumlah mobil pikap saat menunggu pendaki turun di Pos pendakian Via Kandang sapi Desa Sajang, Kecamatan Sembalun.

LombokPost-Asosiasi sopir dan ojek lingkar Rinjani mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM), terutama Pertalite. Kondisi ini membuat sopir dan ojek pengangkut pendaki harus mengeluarkan biaya operasional lebih besar.

“BBM jenis Pertalite di sejumlah SPBU selalu kosong. Kalaupun ada, antrean cukup panjang. Sehingga kami terpaksa membeli yang eceran,” terang salah seorang sopir pikap lingkar Rinjani Kertadi saat ditemui di Pos Pendakian via Kandang Sapi, Desa Sajang, Rabu (5/8).

Langkanya Pertalite membuat para sopir terpaksa menggunakan Pertamax meski harganya jauh lebih mahal. Harga Pertamax di tingkat pengecer mencapai Rp 18 ribu hingga Rp 19 ribu per liter.

Baca Juga: Tak Lagi Menjadi Penonton di Jalur Pendakian Rinjani, Pemuda Empat Desa Penyangga Menggagas TO, Ciptakan Pemandu Profesional dan Paket Wisata Ter

Dalam sehari, mereka membutuhkan minimal 10 botol atau sekitar 10 liter BBM. Mereka harus mengeluarkan biaya hingga Rp 200 ribu untuk membeli BBM. Biaya itu belum termasuk makan dan minum.

“Walaupun mahal, kita tetap harus beli asalkan bisa keluar membawa penumpang,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembelian BBM eceran juga dipengaruhi jarak SPBU yang cukup jauh. Para sopir harus membeli BBM ke Kabupaten Lombok Utara (KLU). Kondisi ini menambah biaya operasional.

Baca Juga: Siapkan Aturan Adat bagi Pendaki Gunung Rinjani

Ia berharap pasokan BBM subsidi kembali lancar. Pemerintah juga diharapkan membangun SPBU di kawasan lingkar Rinjani atau Sembalun. Fasilitas itu dibutuhkan untuk memudahkan sopir dan masyarakat mendapatkan BBM.

Meski BBM sulit didapatkan dan harganya cukup mahal, kondisi ini tidak memengaruhi ongkos angkutan. Tarif tetap Rp 350 ribu untuk sekali angkut dari Resor Sembalun menuju pos pendakian. Tarif itu telah menjadi kesepakatan sehingga tidak bisa dinaikkan.

“Ongkosnya tetap seperti biasa, meskipun BBM mahal dan langka. Karena harga ini sudah menjadi kesepakatan bersama,” katanya.

Baca Juga: Tragedi di Jalur Torean Rinjani, Pendaki Ritual 17 Tahun Tewas Usai Terjatuh ke Jurang 100 Meter

Sementara itu, salah seorang ojek Rinjani Hakimin mengatakan, BBM subsidi saat ini cukup sulit didapatkan. Rata-rata pengecer hanya menjual Pertamax. Para pengojek pun terpaksa membeli Pertamax meski harganya lebih mahal.

“Naik saja kita butuh dua liter, bahkan lebih. Dengan sulitnya BBM ini, tentu juga sangat berpengaruh terhadap pengeluaran kita,” katanya.

Ia berharap pemerintah membangun SPBU untuk memudahkan masyarakat mendapatkan BBM, terutama BBM subsidi. Dengan demikian, biaya operasional dapat lebih murah.

Baca Juga: Geopark Rinjani Jadi Laboratorium Hidup, SEAMEO Biotrop Luncurkan GEMS untuk Sekolah Asia Tenggara

Terlebih, para pengojek harus rutin menyervis kendaraan dan mengganti oli. Jalur menuju Pos II Rinjani cukup berat. Dalam seminggu, mereka bisa mengganti oli minimal dua kali.

“Tiga hari harus ganti oli. Karena jalur ke Pos II ini sangat berat, jadi harus dilakukan servis berkala,” ungkapnya. (par/r7) 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
ojek pendakian rinjani pertamax Pertalite BBM